20090909

Dunia-Politik.blogspot.com - Digest Number 1924[1 Attachment]

There is 1 message in this issue.

Topics in this digest:

1. Refleksi Tentang Kematian Munir -5 Tahun terbunuhnya Munir-
From: Billy Yoseph Bibianus


Message
________________________________________________________________________
1. Refleksi Tentang Kematian Munir -5 Tahun terbunuhnya Munir-
Posted by: "Billy Yoseph Bibianus" billy_classic@yahoo.ie billy_classic
Date: Tue Sep 8, 2009 10:12 pm ((PDT))

Cerita ini adalah kisah nyata dan sangat mengharukan, Mudah-mudahan semangat Cak Munir memberikan inspirasi bagi anda yang membaca,...!!I Cerita ini saya dapat dari teman jaringan Imparsial (Lembaga HAM Monitor yang pernah diketuai Cak Munir) yang mengirim dalam tag di FB dan sudah mendapatkan konfrimasi dari Imparsial untuk menyabarkan cerita sekitar kematian Munir kepada siapapun,...7 September 2009 yang lalu adalah tepat lima tahun Munir di bunuh dan sampai sekarang belum terungkap aktor intelektual siapa yang membunuh Munir. Mungkin cerita ini sebagai cara untuk melawan impunitas tentang kasus-kasus HAM dan kekerasan di masa lalu
 
 
Terimakasih
Teriring salam semangat dan sukses
Salam, Billy
 
 
TERIMAKASIH MUNIR, ENGKAU SUDAH MEMBERIKAN LEBIH DARI CUKUP KEPADA BANGSA

by SRI RUSMININGTYAS


KAMIS, 9 SEPTEMBER 2004


Tuna bread itu sudah tidak ada di atas kulkas. Mungkin Leo sudah membuangnya. Tuna bread yang seharusnya dimakan oleh Munir tapi dia tidak sempat memakannya karena dia sudah meninggal saat aku temui di Schiphol…….

Kilas balik…..

JUMAT, 3 SEPTEMBER 2004

Aku dapat informasi dari Poengky kalau Munir akan tiba di Belanda tanggal 7 September. Poengky bilang:

"Aku titip Munir yo mbak….tenan lho (bener lho), aku titip dia. Kalau ada apa-apa tolong dibantu ya…"

"Yo…jangan khawatir…….."


SENIN, 6 SEPTEMBER 2004

Pagi hari:

Aku telpon Munir di HPnya (0811990568):

"Cak sampeyan kuwi jan-jané sido opo ora sesuk nang Londo, kok ora ono kabare (Cak, anda ini jadi nggak besok ke Belanda kok nggak ada kabarnya)"

"O….sido…sido….. (O…jadi….jadi….)"

"Terus sidane numpak opo? KLM opo Garuda? (Terus jadinya naik apa? KLM atau Garuda?)"

"Aku sidane numpak Garuda…..(aku jadinya naik Garuda)"

"Nek ngono, aku mbok di-sms, nomor penerbangane, terus jam piro mendarat nang Schiphol….(kalau gitu mbok aku di-sms, nomor penerbangannya dan jam berapa mendarat di Schiphol)"

"Iyo engko tak sms yo…..(Iya, nanti aku sms)"

"Oh yo, ojo lali ijazah ku lho yo……(Oh ya, jangan lupa lho ya ijazahku)" Aku memang titip ijazahku yang ketinggalan di Indonesia supaya dibawa Munir ke Belanda.

"Ora lali aku, wis tak cepakke nang tas….(Aku nggak lupa, sudah aku siapkan di tas)"

"Maturnuwun ya Cak. Sampai ketemu ya…..ati-ati"

Sekarang aku berpikir kenapa waktu itu (bahkan jauh-jauh hari sebelumnya), Poengky betul-betul pengin memastikan bahwa aku akan menjaga Munir, kenapa dia sampai titip Munir ke aku. Kalau dipikir-pikir, Munir adalah orang yang sangat independent. Blebar-bleber terbang ke luar negeri sendirian, nggak pake acara dijemput segala. Selain itu network dia di Eropa (bahkan juga di Amerika, Australia dan negara-negara lain di dunia ini) jauh lebih banyak daripada aku yang jarang kemana-mana. Lha kok sekarang aku malah dititipi seseorang yang jauh lebih mandiri daripada aku.

Catatan: ketika aku ketemu Poengky lagi setelah Munir meninggal, Poengky cerita kalau Munir malah ngetawain aku di depan Poengky karena aku akan menjemput dia. Munir bilang ke Poengky:

"Mbak Sri kuwi wis dadi wong Londo ta? Kok ndadak methuk aku barang nang Schiphol….." (Mbak Sri itu sudah jadi orang Belanda to? Kok pake jemput aku segala di Schiphol…..)

"Pokoke sampeyan kudu dijemput sama mbak Sri. Sampeyan wis tak titipke mbak Sri……Ora usah kakehan omong….." (Pokoknya kamu harus dijemput mbak Sri. Kamu sudah aku titipkan mbak Sri……ngga usah banyak bicara….).

Munir menganggap itu lucu. Dia cerita kalau dia pernah cuma dikasih peta dan karcis oleh organizer dan berdasarkan peta tersebut dia bisa kemana-mana sendirian, nggak perlu diantar jemput segala waktu dia harus ke Eropa. Lha kok sekarang dia harus dijemput segala. Tapi Poengky tetap ngotot kalau Munir harus aku jemput di Schiphol. Aneh juga kalau dipikir kan? Mungkin ini semua sudah diatur Tuhan.

Setelah selesai ngomong di telpon dengan Munir, aku kemudian turun ke ruang bawah karena ada pekerjaan yang harus aku selesaikan. Beberapa menit kemudian HPku yang aku letakkan di kamar atas berbunyi. Aku heran, biasanya kalau aku sedang di bawah, aku nggak dengar kalau HPku berbunyi. Maklum HPku tipe ME 45 ini kalau bunyi sangat pelan, jadi sering sekali aku nggak tahu kalau dapat sms. Tapi heran, kenapa pada saat itu aku bisa mendengar bunyi HPku? Apakah Tuhan ingin memastikan bahwa aku menerima pesan Munir?

Aku kemudian naik ke atas dan membaca sms yang ditulis oleh Munir. Sayang HPku ilang, jadi pesan terakhir Munir tersebut ikut hilang. Isinya adalah bahwa dia akan naik Garuda dan mendarat di Schiphol hari Selasa tanggal 7 September 2004. Dia juga tulis arrival time nya.


SENIN, 6 SEPTEMBER 2004

Malam hari:

Leo dan aku melihat foto-foto pernikahan kami yang sudah di-upload oleh Leo di komputer. Salah satu yang kami lihat adalah foto kami bersama Munir sekeluarga beserta teman-teman Kontras yang waktu itu datang ke pernikahan kami. Kebetulan kami menikah bulan Juni tahun yang sama, jadi ingatan kami masih segar dengan kehadiran teman-teman pada waktu pernikahan kami.

Aku cerita sama Leo kalau Munir adalah seorang human rights activist yang hebat. Aku ceritakan perjuangannya, aku ceritakan sisi manusiawinya Munir seorang manusia dengan kelebihan dan kelemahannya, tapi yang jelas bagiku dia orang yang berani berjuang melawan tindak kekerasan, membela yang lemah, berani untuk berteriak bagi mereka yang voiceless…..

Leo sebetulnya belum begitu mengenal teman-temanku. Banyak yang dia temui pada saat pernikahan kami termasuk Munir. Dari foto tersebut Leo bisa mengamati Munir dengan seksama.

Aku usul sama Leo, bagaimana kalau nanti sudah di Utrecht (karena dia mau ngambil Masters nya di Utrecht), sekali-sekali kami tengok atau undang dia ke rumah kami mungkin untuk lunch atau dinner. Sokur-sokur kalau dia mau nginep di rumah kami. Leo bilang:
"That's a good idea……"

Bagi kami, Munir tidak saja seorang teman tapi juga asset bangsa sehingga harus dijaga.

SELASA, 7 SEPTEMBER 2004

Pagi-pagi kami sudah bangun. Leo berjanji mengantarkan aku ke Rotterdam Centraal station supaya aku bisa naik kereta dari sana ke Schiphol airport. Sebelum berangkat, aku memanggang baguette dulu untuk aku bawa ke Schiphol. Bagguette itu kemudian aku isi dengan tuna. Aku pikir mendingan bawa sarapan dari rumah daripada beli di Schiphol mahal, selain itu kalau terlalu pagi belum tentu ada toko yang menjual makanan di Schiphol.

Aku bikin 4 tuna bread. Waktu itu aku berpikir, aku akan makan 2 biji dan sisanya akan aku berikan kepada Munir. Siapa tahu Munir males sarapan di pesawat, jadi lumayanlah untuk ngganjel perut sebelum dia meneruskan perjalanan ke tempat tujuan. Kalau dia nggak mau, ya tak emploke (ya aku makan/embat saja…).

Belum jam 6 pagi kami sudah berangkat ke Rotterdam Centraal Station. Leo nge-drop aku di samping stasiun. Dari sana aku beli karcis. Pada waktu itu aku sempat berpikir lebih baik beli tiket pp karena lebih murah. Tapi kemudian aku membatalkan niatku (dan ternyata kalaupun aku akhirnya beli karcis pp juga percuma saja. Baca ceritaku selanjutnya). Akhirnya aku beli karcis sekali jalan. Pikiranku waktu itu adalah siapa tahu aku harus mengantar Munir ke Utrecht atau ke Almere tempat Munir menginap. Baru setelah urusan Munir beres, aku akan langsung pulang dari kota tersebut bukan dari Schiphol.

Setelah dapat karcis, aku naik ke atas (peron terletak di lantai atas). Waktu itu sudah September, jadi walaupun sudah lebih dari jam 6 pagi tapi masih gelap. Sudah gitu udara sudah mulai dingin. Aku makan tuna bread karena perutku sudah mulai lapar, mungkin karena udara dingin. Aku tetap saja menggigil karena udara dingin. Dalam hati aku bilang:

"Nanti kalau aku ketemu Munir aku akan bilang: "nek ora sampeyan, aku emoh methuk. Lha uadem bianget jé….." (kalau nggak kamu, aku nggak mau jemput. Lha dingin sekali…."

Saking dinginnya, aku turun ke bawah lagi karena aku pikir nunggu di bawah lebih nyaman terhindar dari rasa dingin yang menusuk. Sambil melihat orang lalu lalang, aku menyeruput teh hangat yang aku bawa. Lumayan buat menghangatkan badan. Setelah beberapa lama aku naik ke atas lagi menuju peron. Kereta datang dan aku langsung lompat masuk kereta.

Sampai di Schiphol masih terlalu pagi. Pesawat Garuda yang aku tunggu masih belum mendarat. Aku selalu melihat perkembangan pendaratan pesawat di screen. Lebih baik aku ke toilet dulu. Selesai dari toilet, aku lihat di screen kalau Garuda sudah mendarat. Untunglah, artinya aku nggak menunggu terlalu lama.

Aku tunggu Munir di arrival gate. Waktu itu aku membayangkan dia keluar ndorong trolly sambil cengar-cengir. Kalau nanti dia keluar, aku akan tanya kabarnya, sudah sarapan belum, kalau belum akan kuberikan tuna bread yang aku bawa untuk dia.

Tunggu….tunggu….tunggu….belum juga keluar penumpang dari Garuda. Aku pikir, mungkin masih jalan ke imigrasi, terus antri di imigrasi, terus ambil bagasi dan sebagainya. Tapi herannya kenapa tak satupun penumpang Garuda keluar. Tapi aku sabar menunggu. Mungkin antrian di imigrasi panjang sekali…..

Tiba-tiba ada pengumuman dalam bahasa Belanda yang menyebutkan kata "Munir". Aku pikir bodoh banget, wong Munir saja belum keluar kok sudah disuruh ke information centre. Waktu itu Bahasa Belandaku masih belepotan (sekarangpun masih), jadi aku nggak tahu apa yang sebetulnya diumumkan. Ternyata pengumamnya berbunyi: bagi siapa yang menjemput Munir, harap menghubungi Information desk.

Setelah lama sekali menunggu barulah keluar satu dua penumpang dari Garuda. Aku yakin itu dari Garuda karena mereka orang Indonesia. Tapi kemudian ada jeda lagi yang sangat lama, baru keluar lagi penumpang. Tiba-tiba HPku berbunyi. Ternyata Poengky menelepon HPku.

"Mbak Sri sampeyan nang endi?" (Mbak Sri, kamu dimana?)

"Lha yo nang Schiphol…." (Lho ya di Schiphol)

"Ngapain?"

"Lho piye to, jarene kon methuk Munir…." (Lho gimana to, katanya disuruh jemput Munir).

Mungkin Poengky waktu itu dalam keadaan bingung, jadi tanpa sadar dia tanya sesuatu yang nggak masuk akal.

"Nang Schiphol e nang endi?" (Di Schiphol nya di sebelah mana?)

"Nang ngarep arrival gate….." (Di depan arrival gate)

"Wis ketemu Munir?" (Sudah ketemu Munir?)

"Yo durung, aku isih nunggu Munir metu soko gerbang…" (ya belum, aku masih nunggu Munir keluar dari gerbang)

"Di sini kami dapat informasi. Mungkin rumor, jaré né (katanya) Munir meninggal di pesawat…."

Aku nggak percaya berita itu.

"Mosok ah. Mungkin ming (cuma) rumor wae (saja)"

"Tulung golekno informasi yo….." (tolong carikan informasi ya…)

"OK, mengko tak nggolek informasi. Mau yo ono pengumuman nyebut Munir, tapi ora jelas pengumumane opo" (OK, nanti aku cari informasi. Tadi juga ada pengumuman nyebut nama Munir, tapi ngga jelas isi pengumumannya apa)

Aku tetap tunggu lagi Munir di depan pintu gerbang tersebut. Makin banyak orang yang keluar dari sana. Tapi tidak satupun aku melihat Munir. Ada pengumuman lagi dalam bahasa Inggris yang menyebutkan kata Munir, tapi aku nggak gitu memperhatikan pengumumannya karena aku masih berharap Munir keluar dari gerbang bersama trolly nya. Aku tidak percaya dengan rumor, aku masih yakin Munir tidak meninggal. Akhirnya ada rombongan crew pesawat Garuda yang keluar, aku samperin mereka. Aku bilang:

"Saya menjemput Munir. Tadi saya dapat informasi kalau Munir meninggal. Apakah informasi tersebut betul?"

Seorang crew (pramugari) menjawab:

"Betul memang Munir meninggal, tetapi untuk berita resminya silahkan hubungi Garuda…."

Aku mulai panik tapi masih berusaha menahan tangis. Aku lari mencari information desk. Aku bilang sama mbak di information desk kalau aku penjemput Munir dan aku mendapat informasi kalau Munir meninggal di pesawat. Dimana kantor Garuda. Dia menjawab:

"Please ask three gentlemen standing outside…."

Aku clingukan mencari 3 gentlemen yang disebut dia. Kok nggak ada. Gimana sih, wong aku cuma mau nanya dimana kantor Garuda malah disuruh nanya orang lain.

Tapi kemudian ada 3 orang laki-laki yang menghampiriku. Satu orang berpakaian pake jas dan 2 orang lagi berpakaian baju seragam polisi warna biru. Yang pake jas hitam tanya aku. Aku kemudian tahu nama blio adalah Wim van Brookhoven dari Luchthaven pastoraat.

"Kamu menjemput Munir?" Aku mengiyakan.

"Apakah kamu keluarganya?"

"No…."

"Are you his relative?"

"No…."

"Siapa kamu? Apa hubunganmu dengan Munir?"

"Aku temannya. Aku berjanji untuk menjemput dia di sini. Aku dapat informasi katanya Munir meninggal. Apakah betul?"

Dia mengiyakan. Aku lepas kontrol, aku sudah tidak bisa menahan tangisku. Dia memelukku dan menenangkanku. Mereka kemudian mengajakku ke atas, ke kantornya. Di ruangan tersebut, aku diberi minum. Aku berusaha menenangkan diri. Aku masih tetap tidak percaya kalau Munir meninggal. Rasanya seperti disambar geledek.

Setelah aku tenang, mereka mewawancaraiku. Polisi meminta aku memperlihatkan kartu identitasku. Aku perlihatkan passportku. Alhamdulillah aku waktu itu membawa passport karena verblijfsvergunning (stay permit) ku masih belum jadi. Leo memang mengingatkanku untuk bawa passport siapa tahu berguna. Ternyata betul berguna.

Mereka tanya siapa Munir, darimana aku kenal Munir, apakah Munir memiliki masalah kesehatan, apakah Munir mempunyai musuh dsb. Nampaknya itu adalah pertanyaan-pertanyaan dasar yang perlu diutarakan dalam kasus-kasus kematian di pesawat.

Aku ceritakan siapa Munir, bagaimana aku mengenal dia, dan sebagainya. Aku juga ceritakan bagaimana berkali-kali Munir memperoleh teror pembunuhan (karena Munir juga pernah cerita itu padaku). Aku menceritakan Munir memperoleh terror bom yang dipasang di halaman rumah orang tuanya di Malang.

Polisi pada waktu itu ingin menegaskan:

"Jadi menurutmu, kematian Munir ada hubungannya dengan pekerjaannya?"

"Kemungkinan itu ada mengingat sepak terjangnya"

Setelah wawancara selesai. Aku dipersilahkan untuk menghubungi siapa saja yang ingin aku hubungi menggunakan telpon mereka. Aku hubungi Poengky dan mengabarkan apa yang aku ketahui. Kami kemudian saling bertelpon-telponan untuk saling mengetahui perkembangan.

Aku lihat polisi yang berbaju biru juga menelpon, ngga tahu nelpon siapa. Tapi yang jelas dia beberapa kali menyebut nama Munir.

Tiba-tiba Leo menelepon di HPku. Dia waktu itu telpon dari kantornya.

"Kamu dimana? Di Utrecht ya?" Leo membayangkan aku mengantar Munir ke Utrecht.

"Aku masih di Schiphol. Munir meninggal dunia……" kataku lemah. Tangisku meledak lagi. Leo kaget luar biasa.

"OK, aku segera ke Schiphol. Tunggu aku disana…."

Selama menunggu Leo, aku masih terus menerus berhubungan dengan Jakarta.

Aku masih belum diijinkan untuk melihat jenazah Munir di Mortuarium. Meneer Wim van Brookhoven mengatakan lebih baik menunggu Leo supaya bisa bersama-sama ke mortuarium.

Setelah Leo datang, kami akhirnya bersama-sama ke mortuarium. Disana sudah menunuggu 2 orang detektif dari The Royal Netherlands Marechaussee (http://en.wikipedia.org/wiki/Royal_Marechaussee). Jadi ternyata, polisi berbaju biru yang kami temui sebelumnya menyerahkan kasus ini ke Marechussee karena dianggap kasus penting. Kematian Munir dianggap cukup mencurigakan.

Kedua detektif tersebut memeriksa identitas kami.

Salah satu detektif meminta kami untuk mengidentifikasi jenazah. Apa betul itu memang Munir. Tapi dia bilang sama aku:

"Tapi yang boleh masuk ruangan duluan adalah suamimu, bukan kamu…."

Aku langsung protes.

"Kenapa? Aku kan malah temannya Munir……"

"Karena kamu temannya Munir, maka kamu sebaiknya masuk setelah suamimu. Kalau kamu masuk duluan, dikhawatirkan kamu nanti akan histeris. Jadi biarkan suamimu dulu yang mengidentifikasi jenazah tersebut…."

Akhirnya kami setuju. Leo masuk duluan. Aku menunggu beberapa lama. Setelah itu aku baru dipersilahkan masuk ruangan.

Aku masih ingat sekali apa yang terjadi pada waktu itu. Aku memasuki ruangan. Jenazah ada di sebelah kiriku. Aku tidak mau menengok ke arah jenazah tersebut karena aku masih tidak mau kalau yang terbaring itu adalah Munir. Pada detik itupun hatiku masih menolak kalau Munir sudah meninggal.

Jenazah ada di sebelah kiriku. Aku memandang ke depan ke arah Leo. Aku menatap mata Leo dan aku masih berharap Leo menggeleng. Tapi ternyata Leo mengangguk. Aku langsung menengok ke kiri, dan betul yang terbaring kaku di tempat tidur itu adalah Munir yang sudah tak bernyawa. Langsung meledaklah tangisku. Diantara tangisku, aku bilang:

"Muuuniiiiiirrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrrr…..kamu kok ninggalin aku. Kita kan sudah janji akan ketemu ………..kok sekarang kamu malah pergi………."

Leo memeluk aku dengan erat. Dia berusaha menahan air mata supaya tidak jatuh. Kami berdiri memandangi jenazahnya yang diam membisu. Untuk menenangkan diri, aku berdoa dan berdoa. Masih terbayang apa yang dia katakan, masih terbayang perjuangannya, masih terbayang dia sekeluarga menghadiri pernikahan kami.

Ketika aku sudah mulai tenang, kedua detektif itu mewawancarai kami berdua. Kami menceritakan apa yang kami ketahui tentang Munir. Setelah mendengar cerita kami, kedua detektif tersebut bermaksud untuk mengadakan pemeriksaan selanjutnya yaitu autopsy. Mereka betul-betul ingin tahu apakah kematian Munir terjadi secara wajar atau tidak. Mereka akan meminta ijin kepada pihak keluarga.

Sebagai catatan: Menurut hukum Belanda, otopsi tetap akan dilanjutkan walaupun keluarga tidak setuju. Dasarnya sangat sederhana yaitu bagaimana kalau keluarga yang terlibat. Tapi dalam kasus Munir ini, keluarga dan organisasi justru mendukung adanya otopsi.

Para detektif tersebut meyakinkan kami bahwa tidak boleh seorangpun akses terhadap jenazah Munir dan barang-barang yang dibawa Munir termasuk dokumen-dokumen yang ada di kopernya. Hanya orang-orang tertentu saja yang bisa akses ke situ.

Pada hari itu juga kami sudah memperoleh kepastian juga bahwa Suciwati, Poengky, Usman Hamid, dan Ucok serta saudara Munir sudah memperoleh tiket dan akan tiba di Schiphol tanggal 9 September 2004 untuk menjemput jenazah. Marechaussee dan Meneer Wim van Brookhoven mengatur bagaimana kita semua bisa bertemu. Kami semua bersiap-siap menerima kedatangan mereka.


KAMIS, 9 SEPTEMBER 2004

Jam 3 pagi Leo dan aku berangkat dari rumah ke Schiphol. Tiba di Schiphol jam 4 pagi, sesuai dengan waktu yang kami sepakati. Selain Marechaussee dan Meneer Wim van Brookhoven, di sana juga ada wakil dari ICCO, lembaga yang memberi beasiswa kepada Munir.

Kebetulan kami masih memiliki foto pernikahan kami yang sebetulnya mau aku berikan kepada Munir. Foto tersebut cukup besar ukurannya (mungkin sebesar kertas folio). Dalam foto itu ada gambar Munir, Suci, Poengky dan Usman atau orang-orang yang akan menjemput jenazah Munir. Kami perlihatkan foto tersebut kepada Marechaussee dan Meneer Wim van Brookhoven supaya mereka tahu siapa yang akan mereka jemput.

Kami kemudian diajak mereka untuk memasuki ruang tunggu di Schiphol setelah melalui berbagai macam pintu pemeriksaan. Kami tiba di ruang tunggu. Ruang dimana semua penumpang KLM akan menjejakkan kaki begitu mereka keluar dari belalai pesawat. Pihak Marechaussee meminta aku untuk menunggu di depan pintu agar ketika yang kami tunggu sudah kelihatan, mereka harus digiring untuk tidak keluar ruangan.

Sesuai dengan rencana, kami bisa menggiring teman-teman tersebut untuk masuk ke ruang tunggu. Dari situ kemudian kami digiring ke mortuarium untuk melihat jenazah Munir. Bisa dibayangkan bagaimana suasanya. Ledakan tangis, doa, kesedihan mewarnai suasana waktu itu.

Setelah selesai dari mortuarium, kami kemudian digiring ke tempat lain. Kemudian tejadilah wawancara marathon sampai berjam-jam. Beberapa dari teman-teman ini diwawancarai satu per satu oleh pihak Marechaussee untuk kepentingan penyidikan

Tanggal 10 September ternyata teman-teman sudah bisa membawa jenazah ke tanah air. Tapi perjalanan belum berakhir. Masih banyak sekali yang harus dilakukan baik di sini maupun di tanah air. Kami memperoleh informasi kalau hasil otopsi menunjukkan bahwa Munir teracuni arsenik. Tidak mungkin kan Munir dengan sengaja menelan arsenik. Pasti ada pihak yang mau membunuh Munir.

Tidak saja di Indonesia, kasus ini juga disorot oleh media Belanda beberapa kali. Koran, televisi, radio memberitakan kasus Munir. Bahkan issue ini juga diangkat oleh parlemen Belanda.

Sudah 5 tahun Munir tiada, tapi kasus ini belum terselesaikan. Keadilan akan terus diperjuangkan. Aku cuma berpikir kalau kasus Munir yang sudah sampai di tingkat internasional saja tidak terselesaikan, bagaimana kasus-kasus pelanggaran HAM lainnya. Kita berharap keadilan akan datang.

Menurut informasi yang aku terima, death on board di Schiphol sekitar 200 orang per tahun. Tidak semua ditindak lanjuti seperti kasus Munir karena tidak semua kematian dicurigai sebagai kematian yang tidak wajar. Mungkin saja memang karena sakit.

Ada satu hal yang ada di benakku setelah mengalami kejadian ini yaitu bahwa tangan Tuhan tidak bisa dilawan.Kalau toh Munir harus meninggal dengan cara dibunuh, Allah tidak akan membiarkan dia meninggal begitu saja tanpa ada suatu tindak lanjut. Kalau seandainya waktu itu Poengky tidak memintaku untuk menjemput Munir, aku yakin jenazah akan langsung diserahkan kepada KBRI dan dipulangkan ke Indonesia tanpa adanya suatu otopsi. Tapi Tuhan berkata lain, aku harus menjemput dia di Schiphol. Aku waktu itu berkata sama Tuhan:

"Ya Allah, kalau seandainya Engkau mengutusku untuk melakukan sesuatu, kenapa Engkau memberikan tugas yang begitu mengagetkan seperti ini. Tapi mungkin memang inilah jalan yang harus aku lalui……Terimakasih ya Allah, Engkau percayakan tugas penjemputan ini kepadaku, tapi berikanlah juga kekuatan untuk menerima ujian ini. Amin……"

EPILOG:

Aku dan Leo memandangi foto pernikahan kami. Munir, doa kami selalu bersamamu. Semoga engkau sudah tenang beristirahat di sana. Semoga Allah menerimamu. Terimakasih Munir, engkau sudah memberikan lebih dari cukup kepada bangsa Indonesia terutama kepada mereka yang lemah dan tak berdaya melawan kekerasan. Semoga kita semua bisa meneruskan perjuanganmu melawan tirani ketidak adilan.

Terimakasih Munir, engkau sudah menghadiri pernikahan kami. It means a lot to us.


Krimpen aan den Ijssel, 6 September 2009

Salam hangat selalu dari kami,

Sri Rusminingtyas dan Leo Fontijne


Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com

1 of 1 Photo(s) http://groups.yahoo.com/group/dunia-politik/attachments/folder/1830128594/item/list

Foto


Messages in this topic (1)

Ahli yang menghantar menggunakan kata-kata kesat dan kasar atau menyerang peribadi ahli yang lain, email mereka tidak akan disiarkan.

Ahli group yang sentiasa menghantar email berkenaan politik sahaja akan disiarkan emailnya tanpa penapisan moderator group.

Email yang disiarkan dipertanggungjawabkan kepada pengirim email tersebut dimana moderator dan group tidak boleh dipertanggungjawabkan.

=============================================
Link List:
� Lirik Lagu Popular - http://www.lirikpopular.com
� Spa Q - http://spa-q.blogspot.com
� Auto Insurance - http://pdautoinsurance.blogspot.com

------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/dunia-politik/

<*> Your email settings:
Digest Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/dunia-politik/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:dunia-politik-normal@yahoogroups.com
mailto:dunia-politik-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
dunia-politik-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

------------------------------------------------------------------------

20090908

Where is the Spirit of Merdeka?

[In anticipation of "Merdeka" Day, I'd like to rehash one of my earliest articles- first published here on 23/01/2007 (see archives) - long before the formation of Pakatan Rakyat.
The question of a PAS vote and an Islamic state was also being hotly debated in MT back then.
This was also published in Malaysia Today, and the title was actually given by RPK. It has been edited a little (in Arial font at the end) so as to be a little more relevant in today's context.]

It is common knowledge that the Utopian Malaysia does not and will never exist.

The best that we can do is to be aware, voice out where we can be heard, and hope that whatever that is mentioned is worth something towards development of new ideas in nation building. The Malaysia as we know it today, isn't what was envisioned by the those who hoped for nationhood during “Merdeka”.

The spirit of Merdeka has been subverted by racists and the religious zealots over the years, and has been replaced by chauvinism – racial and religious. It all somehow points to the political “coup” that was engineered during the events that led to the May 13, 1969.

So we had a much publicized "social contract", wherein the people themselves didn't know the cancer that was prescribed as a medicine, which was to cure all the ills within. Unfortunately, we are a society so paralyzed by symptomatic solutions one has to wonder whether we will learn anything from this mindless atrocity.
What we have now is an idea that has been entrenched so deep in the psyche - that to remove this “cancer” called the New Economic Policy would be, akin to killing the “goose that lays the golden eggs” for the beneficiaries. The beneficiary has become a hideously obese and grotesque, addict of a monster, who cannot live without his crutch and his regular “fix”. If he doesn't get his fix he would gnaw on his fingers till he bleeds, rave and rant, and wave his little weapon with threats against all those who try to help.

He does not see or understand reason.
His perception and values have become so twisted , that he does not recognize himself when he looks in the mirror. He chooses to destroy his reflection by destroying the mirror , as he says that it is only an illusion – “it isn't and will never be real”. The only good that sees, are ways to satisfy his gluttony and cravings. To justify him, the audience of unthinking little monsters applaud. All who choose to disagree, are said to be “biting the hand that fed them”.

The very hideous cancer that is destroying the nation as a whole, has become a symbol of pride and arrogance, for a political agenda so consumed by itself. To abide by the contract, to the advocates, mean defeat and shame - not honour. They have failed so miserably to even convince themselves that they are on the right track, that they look for scapegoats all around them.

Having failed in its shortcut to an economic miracle, the advocates of the system (clamouring for issues and a new agenda to perpetuate their greed and envy) now choose to preach intolerance, “arabization”, and religiosity in the name of God, to further isolate, and “drug into a stupor” a beautiful people that was once open to change.
Even if we aren't too accurate in our assessment, much of what that has been passed off for Islamization by the govt was nothing more than frothy God-talk - mindless, thoughtless, and in its exploitation of people, heartless.
The “one-upmanship” practiced by the various institutions that espouse religious chauvinism, is in fact a pathetic display of their failures and insecurities.

They need to feel that they are “winning” and wish to gloat about their “success” in being the defenders of their misplaced priorities - while hiding the enemies within, behind a cloak (turban or beard, too) of religiosity.

Then again there are those who see the folly of race/ religion politics, but intend to oppose the system by simply voting for an opposition who are themselves part of this system of apartheid, by virtue of the racial make-up of their membership. They, the people, vote because they think it makes difference, when in fact, these votes are only perpetuating the system by lending it legitimacy.

All political parties in Malaysia are race based. Most hide behind the façade of a non racist constitution. At least the original members of the Alliance aren't hiding and make no apologies about that fact ..... in fact, they don't apologize for anything when flaunting their agenda of greed and robbery.

Dear Sir- lets call a spade, a spade.
Malaysia is a one party state. UMNO.
PAS is out of the equation by virtue of its religious/political convictions.
DAP is glaringly Chinese. PKR - no agenda or alternative “formula”.
All are Lame ducks.

The rest (read component parties of BN) are in it for their share/spoils in the grand scheme of things, and to bow before the almighty powers. There can only be one kind of a viable opposition – one that is truly multi-racial in its membership. One that espouses universal values. One that is led by a Malay majority. In the Malaysian political landscape, these criteria are sorely lacking.

Politicians today, seek convenient excuses to perpetuate the status quo of racist politics - they blame the people for this, when it is they who have created this predicament. They forget that they as leaders, should be playing the music which the people dance to. They choose ignore the fact that it is their job to lead, and not be led by the mindless mob, in a siege-mindset.
Although the ruling party is actually aware of this, faced with the "ideological frankensteins" it has nurtured for 50 years, it is powerless to reinvent itself - and find itself being led by unthinking extremists bent on creating a fascist state. PAS on the opposition front is faced with the same predicament where its conservatives (under the Hadi-Nasha leadership) - who seek refuge in religious orthodoxy - are concerned. They both appear to advocate a confrontational approach in dealing with those outside their fold - and so, breed much resentment and uncertainty among the rakyat.

As such, Malaysia today is a nation that has lost its conscience.
Lets hope that the soul still lives.

cruzinthots.blogspot.com

Dunia-Politik.blogspot.com - Digest Number 1923

There is 1 message in this issue.

Topics in this digest:

1. Invitation: UNODC's Talk Series
From: bogiey_reptiles


Message
________________________________________________________________________
1. Invitation: UNODC's Talk Series
Posted by: "bogiey_reptiles" bogiey_reptiles@yahoo.com bogiey_reptiles
Date: Mon Sep 7, 2009 8:26 pm ((PDT))

Dear friends,

United Nations Office on Drugs and Crime will be organising its fifth
talk in the Talk Series on " Indonesia 's Fight against Corruption". The
aim of the talk series is to analyse the current status of the laws,
institutions, and public participation in the fight against corruption
of the nation. A distinguished speaker delivers the talk followed by an
hour long discussion on the topic.

We would like to cordially invite you to attend and participate in our
fifth talk in the series.

Date : 14 September 2009
Time : 2pm-4pm
Place : Papua Room, United Nations, Menara Thamrin Building 7th
Floor, Jl. M.H. Thamrin, Jakarta 10250
Topic : Corruption the socio-economic context in Indonesia
Speaker : Dr. H.S. Dillon, Executive Director of Centre for
Agricultural Policy Studies

About the speaker: Dr. Harbrinderjit Singh Dillon, more commonly known
as H. S. Dillon, is an Indonesian Indian
<http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesian_Indian%5CoIndonesianIndian>
who has occupied a variety of positions in Indonesian
<http://en.wikipedia.org/wiki/Indonesia%5CoIndonesia> political life,
including assistant to the Minister of Agriculture and Commissioner of
the National Commission on Human Rights
<http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=National_Commission_on_Human_\
Rights_(Indonesia)&action=edit&redlink=1%5CoNationalCommissiononHumanRig\
hts(Indonesia)(pagedoesnotexist)> . Pak Dillon is the former Executive
Director of Partnership for Governance Reform in Indonesia
<http://en.wikipedia.org/w/index.php?title=Partnership_Governance_Reform\
_in_Indonesia&action=edit&redlink=1%5CoPartnershipGovernanceReforminIndo\
nesia(pagedoesnotexist)> (Kemitraan) and has been an outspoken critic
of corruption
<http://en.wikipedia.org/wiki/Political_corruption%5CoPoliticalcorruptio\
n> in Indonesia . Dr. Dillon obtained his Ph.D (1983) at Cornell
University in agricultural economics.
<http://en.wikipedia.org/wiki/Agricultural_economics%5CoAgriculturalecon\
omics>

Warm regards,
Paku
ps: It's free, for groups reservation please contact +6221 52920731 ext
16/ paku.utama@unodc.org


Messages in this topic (1)

Ahli yang menghantar menggunakan kata-kata kesat dan kasar atau menyerang peribadi ahli yang lain, email mereka tidak akan disiarkan.

Ahli group yang sentiasa menghantar email berkenaan politik sahaja akan disiarkan emailnya tanpa penapisan moderator group.

Email yang disiarkan dipertanggungjawabkan kepada pengirim email tersebut dimana moderator dan group tidak boleh dipertanggungjawabkan.

=============================================
Link List:
• Lirik Lagu Popular - http://www.lirikpopular.com
• Spa Q - http://spa-q.blogspot.com
• Auto Insurance - http://pdautoinsurance.blogspot.com

------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/dunia-politik/

<*> Your email settings:
Digest Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/dunia-politik/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:dunia-politik-normal@yahoogroups.com
mailto:dunia-politik-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
dunia-politik-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

------------------------------------------------------------------------

20090907

I'd pick the Devil I know .....

========================================
Today's Islamic fundamentalism is also a cover for political motifs.
We should not overlook the political motifs we encounter
in forms of religious fanaticism.
-Jurgen Habermas
========================================

During the last elections, we had the religious right in this country agreeing to tone down their religious big0try and rhetoric - in the interest of gaining votes for power. They stopped asking for an Islamic State.

Reassurances were given by the leaders of PAS, DAP and PKR, which culminated in the signing of The People's Declaration which lacked of explicit statement on this matter (of the Islamic State). The issue of the PAS vote was written in I did mention this in the comments section of MalaysiaToday when it was revealed that - however, the comment wasn't given heed.

Back in 21/11/2007 when I wrote The PAS factor - A Viable Alternative?, (which was published in MalaysiaToday), I had posed a few questions as follows, (to which there was no real reply):-

PAS,
-Don't you realize that your policies are 'exclusivistic'?
-Don't you realize that you are the ones keeping BN in power?
-That you are instrumental to their existence?
-That you complement their intentions?
-How many of you actually understand and are tolerant of the sentiments, culture, religions and lifestyle of the Kufr? (By this I do not mean the 'negligible' Kelantan, Terengganu, Kedah, Perlis and Pahang populace).
-Do you intend to start policies of Islamic this and Islamic that?
-Do you plan to impose nationwide dress code and gender segregation should you gain power?
-Would you endeavour to abolish "immoral" entertainment outlets?
-What about education? Wanna promote madrasahs?
-Take a good look at your policies and ask yourselves - Are you the Trojan Horse party?

Despite the lack of response, I agreed to give PAS the benefit of doubt and lend them my support (no matter how insignificant it may be) with the formation of Pakatan Rakyat. This was simply in the interest of helping the reform process required to save the nation. It was no means an endorsement of PAS's "fundamentalist" ideas of repression and bigotry.
However, events of late indicate that they are (or at least they have within their fold) Trojan Horses, who serve to prop-up Umno.

The following was a comment I left on Merdeka? What Merdeka? on People's Parliament:-
"“1-Black Merdeka” it is, Haris.
However, this “Merdeka”, I declare that I’m willing to vote Umno/BN to let Malaysia be damned if our PR (PAS, mainly) and Umno reps cannot get their act together to accept the fact that we are a SECULAR Democracy.
If the mullahs of PAS/Umno cannot be silenced, and are too powerful for our chickenshit reps who don’t have the courage to openly declare that we are a secular Democracy, then so be it- let Malaysia be damned with the (Umno or PAS) Taliban-Calibans!
I am so sick of these moronic bigots ….."

*******************************************
"Those who would give up essential liberty,
to purchase a little temporary safety deserve neither liberty nor safety."
- Benjamin Franklin (1706 - 1790), Historical Review of Pennsylvania, 1759
*******************************************

Upon gaining power however, PAS appears to have let power get the better of them, and have started imposing its will upon its electorate and sabotaging the ideals for which Pakatan Rakyat stands for, and umwittingly (or by design) playing to Umno's tune.
Of late, through Hassan Ali, Nasharuddin, Nasruddin (and maybe others as well, like Zul Nordin of PKT), they have started once again calling for the imposition of "Islamic" values upon a people who are unwilling to accept them. They conveniently tell non-Muslims "not to interfere" in matters that "don't concern them" - while they hold their Muslim brothers hostage to edicts pronounced by clerics. They are quick to claim that "Islam is under attack" by secularists, while they disregard the fact that we have become far more "Islamic" than what we were for the last century or so. (Well, Umno does the very same thing .., but at least they understand the virtues of secularism.)
It reminds me of what Hitler's Reichsmarshall Hermann Goering said - that "people can always be brought to the bidding of the leaders. This is easy. All you have to do is tell them they are being attacked, and attack the pacifists for lack of patriotism and exposing the country to danger". This approach of PAS, I'm certain, will rip to shreds, the fabric of the nation, which depends on its secular nature as envisioned by the founders to remain progressive and competitive.

The anxiety among the electorate of the Islamists subverting our Secular Democracy, and betraying the Federal Constitution as seen in other countries, is very real. Despite their "PAS for All" slogan and the non-Muslim votes that have given them much power - I sincerely hope that they do not forget that they are for now, just being given the benefit of doubt, pending reform of the BN.

The saddest part of it all, is the fact that nobody dares to silence them - neither the PR nor BN. The rational Muslim whimpers and whispers, when faced with these wannabe godmen who shout out loud at them, with their "wisdom". Meanwhile, the non-Muslim leader simply remains silent because they don't with to provoke the "rage-boys". (Read Haris Ibrahim's "Who is MB of Selangor? Hassan or Khalid?") This is simply because they are plain CHICKEN -they FEAR being labeled as "unIslamic", "anti-Islam" or even being accused of being a "secularist"(so now that has become a four-letter word!!) and whatever else is seen as the usual Islamic bogeyman.

Taking that into consideration, barring the possibility of a real reform in the attitudes of the leadership of PAS or its withdrawal/expulsion from the Pakatan Rakyat pact - I'm prepared to give my vote back to Umno, and let Malaysia be damned if it loses its civil liberties and secular nature. I would rather have Malaysia sink into corruption with UMNO with our secular nature intact, rather than live with the theocratic "cavemen" of the "Talibans". At least the descent with Umno wouldn't be as steep.
It's just the lesser of two evils - should the two remain the only choices left ......

========================================
"So this is how liberty dies-
With thunderous applause."
-'Senator Amidala', Star Wars: Revenge of the Sith (2005)
====================================

cruzinthots.blogspot.com

Dunia-Politik.blogspot.com - Digest Number 1922

There is 1 message in this issue.

Topics in this digest:

1. Pernyataan Sikap PRP Menolak RUU Ketenagalistrikan
From: Perhimpunan Rakyat Pekerja


Message
________________________________________________________________________
1. Pernyataan Sikap PRP Menolak RUU Ketenagalistrikan
Posted by: "Perhimpunan Rakyat Pekerja" prp_pusat@yahoo.com prppusat
Date: Sun Sep 6, 2009 10:55 pm ((PDT))

 






PERNYATAAN
SIKAP

PERHIMPUNAN
RAKYAT PEKERJA
Nomor:
137/PS/KP-PRP/e/IX/09


Tolak
RUU Ketenagalistrikan yang baru karena berpotensi menyengsarakan
rakyat!
Negara
harus menjamin kebutuhan rakyat akan listrik!


Salam
rakyat pekerja,
Hampir
seluruh rakyat Indonesia saat ini telah menggunakan tenaga listrik
untuk kebutuhan rumah tangganya. Untuk rakyat Indonesia di Jawa-Bali
saja, penggunaan listrik bagi kebutuhan rumah tangganya telah
mencapai 90%. Sedangkan untuk wilayah luar Jawa, walaupun belum semua
menggunakan jasa listrik untuk kebutuhan rumah tangganya, namun dapat
dipastikan bahwa sebagian besar rakyat di luar Jawa juga membutuhkan
listrik untuk membantu produktivitas rumah tangga dan industrinya.
Untuk itu, listrik dapat dianggap sebagai sebuah kebutuhan yang
mungkin tidak dapat dilepaskan dari kehidupan masyrakat untuk
menjalani kehidupannya.
Oleh
karena itu, bidang kelistrikan kemudian juga menjadi incaran para
pemilik modal untuk mendapatkan keuntungan. Dengan asumsi sekitar 90%
masyarakat di Jawa dan Bali menggunakan listrik untuk membantu
produktivitas rumah tangganya, maka ini bisa menjadi lahan bisnis
baru bagi para pemilik modal.
Untuk
melancarkan swastanisasi/privatisasi bidang kelistrikan kemudian
pemerintah kapitalis pada tahun 2002 memberlakukan UU No 20 Tahun
2002 tentang Ketenagalistrikan. Inti dari UU No 20 Tahun 2002
tersebut adalah mengupayakan swastanisasi/privatisasi kelistrikan di
Jawa-Bali dapat terwujud dan menyerahkan PLN Luar Jawa ke Pemda. Hal
ini jelas akan berdampak pada semakin tingginya biaya listrik yang
harus ditanggung oleh rakyat Indonesia, khususnya di Jawa-Bali serta
membebankan PEMDA dalam memenuhi kebutuhan listrik bagi masyarkatnya.
Dalam salah satu pasalnya di UU NO 20 Tahun 2002 disebutkan bahwa
usaha pembangkitan tenaga listrik dilakukan berdasakan kompetisi.
Artinya untuk pembangkit tenaga listrik, setiap pemilik modal dapat
berkompetisi untuk membangun instalasi tersebut. Hal ini jelas akan
berdampak seperti halnya swastanisasi yang saat ini terjadi di bidang
pendidikan dan kesehatan. Masyarakat yang tidak mampu secara
finansial akan tertutup aksesnya untuk menikmati listrik karena tidak
memiliki biaya.
Akan
tetapi pada 15 Desember 2004, Mahkamah Konstitusi membatalkan UU No
20 Tahun 2002 tentang Ketenagalistrikan karena bertentangan dengan
konstitusi UUD'45. Untuk selanjutnya pemerintah dan DPR diminta
untuk segera menyiapkan undang-undang baru sebagai pengganti UU No 20
Tahun 2002. Namun dalam Rancangan Undang-Undang Ketenagalistrikan
yang baru pun masih sarat dengan bau Neoliberalisme yang akan
menyengsarakan rakyat. Penyediaan ketenagalistrikan akan diserahkan
sepenuhnya kepada pemerintah dan pemerintah daerah yang berlandaskan
prinsip Otonomi Daerah. Selain itu upaya untuk menswastanisasi bidang
ketenagalistrikan juga masih sangat kental dalam RUU Ketengalistrikan
yang baru.
Hal
ini jelas menunjukkan bahwa pemerintah kapitalis saat ini memang
berupaya untuk melanggengkan agenda-agenda Neoliberalisme agar dapat
menguntungkan kepentingan para pemilik modal. Rakyat Indonesia oleh
pemerintah kapitalis saat ini hanya dijadikan "sapi perah" agar
dapat memberikan keuntungan sebesar-besarnya bagi para pemilik modal.
Hal ini juga menunjukkan ketertundukkan pemerintah kapitalis kepada
para pemilik modal dan tidak mempedulikan nasib rakyat Indonesia
akibat diberlakukannya berbagai kebijakan yang dimunculkan oleh
pemerintah.
Jelas
bahwa sitem Neoliberalisme-Kapitalisme telah gagal untuk
mensejahterakan rakyat Indonesia. Bahkan sebenarnya bukan hanya
gagal, namun sistem Neoliberalisme-Kapitalisme jelas-jelas hanya akan
menyengsarakan kehidupan rakyat Indonesia dan hanya ingin
menguntungkan kepentingan-kepentingan para pemilik modal.
Maka
dari itu, kami dari Perhimpunan Rakyat Pekerja (PRP) menyatakan
sikap:

Menolak
dengan tegas diberlakukannya Rancangan Undang-Undang
Ketenagalistrikan yang baru, untuk menggantikan UU No. 20 Tahun 2002
tentang Ketenagalistrikan yang telah dibatalkan oleh Mahkamah
Konstitusi. Karena sebenarnya RUU Ketenagalistrikan yang akan
diberlakukan tersebut tidak berbeda dengan Undang-undang sebelumnya,
dimana hanya akan menguntungkan kepentigan para pemilik modal dan
menyengsarakan rakyat Indonesia.

Menyerukan
kepada seluruh elemen gerakan rakyat di Indonesia untuk bersama-sama
menggalang kekuatan dan menolak diberlakukannya Rancangan
Undang-Undang Ketenagalistrikan yang dimunculkan oleh sistem
Neoliberalisme-Kapitalisme.

Sistem
Neoliberalisme-Kapitalisme telah gagal untuk mensejahterakan rakyat
Indonesia, dan hanya dengan SOSIALISME lah rakyat Indonesia akan
sejahtera.







Jakarta,
7 September 2009



Komite
Pusat
Perhimpunan
Rakyat Pekerja
(KP-PRP)




Ketua Nasional


Sekretaris
Jenderal






ttd.
(Anwar Ma'ruf)




ttd.
(Rendro Prayogo)



filtered {margin:0.79in;}P {margin-bottom:0.08in;}-->___*****___Sosialisme Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja!
Sosialisme Solusi Bagi Krisis Kapitalisme Global!
Bersatu Bangun Partai  Kelas Pekerja!

Komite Pusat
Perhimpunan Rakyat Pekerja
(KP PRP)
JL Kramat Sawah IV No. 26 RT04/RW 07, Paseban, Jakarta Pusat
Phone/Fax: (021) 391-7317
Email: komite.pusat@prp-indonesia.org / prppusat@gmail.com / prppusat@yahoo.com
Website: www.prp-indonesia.org


Messages in this topic (1)

Ahli yang menghantar menggunakan kata-kata kesat dan kasar atau menyerang peribadi ahli yang lain, email mereka tidak akan disiarkan.

Ahli group yang sentiasa menghantar email berkenaan politik sahaja akan disiarkan emailnya tanpa penapisan moderator group.

Email yang disiarkan dipertanggungjawabkan kepada pengirim email tersebut dimana moderator dan group tidak boleh dipertanggungjawabkan.

=============================================
Link List:
� Lirik Lagu Popular - http://www.lirikpopular.com
� Spa Q - http://spa-q.blogspot.com
� Auto Insurance - http://pdautoinsurance.blogspot.com

------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/dunia-politik/

<*> Your email settings:
Digest Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/dunia-politik/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:dunia-politik-normal@yahoogroups.com
mailto:dunia-politik-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
dunia-politik-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

------------------------------------------------------------------------

20090906

Enam pemimpin perkukuhkan perpaduan kekal kemerdekaan

BAPA Kemerdekaan negara, Almarhum Tunku Abdul Rahman Putra al-Haj, dengan lantang dan bersemangat melaungkan kalimah 'Merdeka' di Stadium Merdeka, Kuala Lumpur pada 31 Ogos 1957. Ini secara tidak langsung memperlihatkan bahawa kemerdekaan negara kita penuh dengan kedaulatan dan kemuliaan, ditambah dengan jasa dan pengorbanan pejuang kemerdekaan yang mengorbankan apa saja demi memerdekakan negara.

Negara kian hari kian bertambah maju dan berjaya. Selepas Tunku tidak lagi bergelar Perdana Menteri, Tunku tidak teragak-agak untuk memberi jawatan itu kepada Tun Abdul Razak Hussein sebagai Perdana Menteri kedua.

Tun Razak menerima jawatan berat itu dengan penuh semangat kebangsaan kerana beliau tahu bukan mudah untuk negara ini mencapai kemerdekaan. Tun Razak memacu negara dengan menekankan atau mengutamakan rakyat jelata agar kemerdekaan negara terus terbela.

Selepas kematian mengejut Tun Razak di luar negara, kemerdekaan negara dipelihara oleh Tun Hussein Onn selaku Perdana Menteri ketiga. Tun Hussein tahu hanya dengan perpaduan rakyat kemerdekaan sesebuah negara itu kukuh sampai bila-bila.

Oleh demikian, Tun Hussein memacu Malaysia dengan menekankan konsep perpaduan antara kaum agar kemerdekaan negara yang dicapai, tidak akan diperbodohkan oleh pihak tidak bertanggungjawab.

Tun Hussein menaikkan semangat penghayatan kemerdekaan agar Malaysia negara merdeka dengan penuh kedaulatan ini tidak akan dimusnahkan atau dipermainkan.

Tun Dr Mahathir Mohamad menjadi Perdana Menteri keempat menggantikan Tun Hussein. Dr Mahathir adalah seorang negarawan Malaysia yang cukup dikagumi kawan dan lawan sama ada dari dalam atau luar negara kerana pemikiran serta strategi beliau dalam memacu negara tercinta.

Dr Mahathir sedar kemerdekaan negara bukan suatu perkara yang mudah untuk dikecapi dan oleh itu, beliau mengagaskan Wawasan 2020 sebagai hala tuju Malaysia demi memelihara kemerdekaan dan kemakmuran negara.

Selama 23 tahun bergelar Perdana Menteri, Dr Mahathir 'membina' Malaysia mengikut acuan sendiri dan membina benteng kemerdekaan negara daripada diceroboh oleh bangsa asing yang sudah semestinya kurang senang dengan kemerdekaan serta perpaduan rakyat Malaysia sehingga kini.

Dr Mahathir berundur dan digantikan Tun Abdullah Ahmad Badawi, Perdana Menteri kelima yang banyak menumpukan kepada keterbukaan dan integriti di Malaysia. Abdullah sedar bahawa dengan wujudnya keterbukaan dan integriti yang baik di negara ini, sesebuah kemerdekaan negara itu akan boleh dikuatkan melalui rakyatnya yang diberi beberapa 'kuasa' dalam sistem demokrasi dan keterbukaan.

Datuk Seri Najib Razak adalah Perdana Menteri keenam yang mengambil tampuk pemerintahan negara April lalu. Najib adalah seorang yang genius dan berpandangan jauh. Beliau mengakui bahawa kemerdekaan negara suatu yang mudah untuk dikecapi tetapi amat sukar untuk dikekalkan.

Oleh itu, Najib menggagaskan '1Malaysia: Rakyat Didahulukan, Pencapaian Diutamakan' sebagai suatu konsep negara ke arah memelihara kemerdekaan negara melalui tiga petunjuk utama iaitu perpaduan rakyat, kepentingan kepada rakyat dan kualiti kerja yang cemerlang.

Najib melihat tiga petunjuk ini mampu untuk memelihara kemerdekaan negara daripada diperdajalkan oleh pihak asing yang tidak bertanggungjawab.

SARFARIZMAL MD SAAD,
Universiti Kebangsaan Malaysia.

It's "Merdeka"? Mmm ... It's Black out there.

[A black flag was used by Muhammad to represent his religion.[2]
It has also been stated that it will be the flag of the army that will fight the Dajjal.
Islam has not symbolized itself with any particular object or symbol, but due to political reasons a flag was required to give a standard for Muslims, especially during the wars. The Prophet used flags of different colors in different Ghazwat (campaigns commanded by the Prophet) and Saraya (campaign commanded by any Sahabi). The major flag of the Prophet was known as "Al- Uqaab", it was pure black with and without symbol or marking. Its name and color was derived from Quraish's national flag.]

cruzinthots.blogspot.com

20090905

Remaja murtad cetus perbalahan di Florida



RIFQA memasuki mahkamah Florida di Orlando kelmarin. Gambar kecil menunjukkan ibu Rifqa, Aysha, menangis dalam mahkamah melihat anaknya.

Gadis enggan pulang ke rumah dakwa keluarga ancam keselamatannya

ORLANDO: Seorang remaja perempuan Muslim yang lari dari rumah dan murtad untuk memeluk agama Kristian mencetuskan perebutan hak penjagaan di mahkamah Florida di antara mubaligh Kristian dan keluarga Islam remaja itu.

Kes membabitkan hak penjagaan remaja berusia 17 tahun yang berasal dari Sri Lanka itu akan diputuskan di mahkamah Florida esok.

Kumpulan mubaligh Kristian terbabit menganggap kes itu membabitkan isu kebebasan beragama, manakala kumpulan Islam berkata ia hanyalah masalah keluarga.

"Kami kesal (kes ini diperbesarkan) kerana ia hanyalah satu masalah keluarga,” kata pengarah Pusat Islam Orlando,” Imam Tariq Rasheed kepada akhbar Orlando Sentinel kelmarin.

"Cara ia dipaparkan media lebih mirip kepada usaha memburukkan Islam dengan memberi gambaran negatif mengenai agama ini,” katanya.

Remaja berkenaan, Rifqa Mohamed Bary, meninggalkan keluarganya di Ohio Julai lalu dan pergi ke Orlando untuk memeluk agama Kristian.

Rifqa yang kini tinggal di rumah keluarga seorang paderi berkata beliau bimbang tentang keselamatannya jika pulang ke pangkuan keluarganya.

Bagaimanapun, bapa remaja itu berkata anak perempuannya itu tidak perlu bimbang kerana beliau bebas untuk mengamalkan agama barunya. Katanya, keluarga itu hanya mahu remaja itu pulang.

Aktivis Kristian di Florida sedang melancarkan kempen untuk membenarkan remaja itu tinggal di negeri itu dengan menyatakan ia membabitkan isu kebebasan beragama kerana mereka mendakwa Al Quran memerintahkan hukuman mati terhadap mereka yang murtad.

Kumpulan Islam menafikan hujah berkenaan.

"Tidak ada satu ayat pun dalam Al Quran menghalang seseorang daripada menggunakan haknya untuk memilih agama yang dianutinya,” kata Imam Rasheed.

"Juga tidak disentuh mengenai hukuman terhadap yang murtad."

Seorang profesor madya dalam bidang agama di Universiti Florida, Gwendolyn Zoharah Simmons, berkata isu itu mungkin berpunca daripada kebimbangan yang tidak rasional di kalangan mereka yang tidak memahami Islam.

"Apa yang lebih memalukan dalam isu ini ialah mereka yang sepatutnya lebih berilmu dan mempunyai nilai yang tinggi, sanggup menggunakan tanggapan salah untuk memperdayakan yang jahil dan menggalakkan keganasan.” - Agensi

Mercury Rising in 2-Malaysia!

"It goes back to the fundamental contradictions in Tun Dr Mahathir Mohamad’s Vision 2020 ..... It offered the image of an economically and technologically modern society,
but failed to recognise that you cannot simply create a modern economy with modern technology and keep everything else pretty much unchanged."
-Clive Kessler, Bumpy stretch ahead for Malaysia

Six months down the road, it appears that Najib is losing his grip on party matter - and he needs another "war" to prop him up.
Everything Umno does, seems to be going wrong - from the proposed Internet Filter, to Rohaizat's candidacy, to the caning of Kartika, to the beer issue, to the reversal of the Non-Muslims only ruling for the Black eyed Peas concert, to the Visit Malaysia advertisement. Let us not forget Najib's address to the media - encouraging it to be bolder in its journalism, and to report without fear or favour, while at the same time retaining the PPPA....... and of course Moohyiddin's lie at Permatang Pasir, that Singapore threatened to go to war over water.
Morale in Umno is low - bigtime - and he needs a reason to have his Umno minions to rally around him.

As usual, Umno looks for a "bogeyman" to attack, in its efforts to unite Umno that appears to be very much shaken after last year's mandate - it is a party so weak, that cannot feel at ease unless it gets a two-third majority in Parliament.
In search of a bogeyman to blame their failures on, we now hear that our former Information Minister, Zainudin Maidin saying (in Utusan, of course), “If 50 years of independence have given a deeper understanding of the poison sowed by Kuan Yew 40 years ago, the recent events mentioned would not have occurred.” “Singapore sticks to a Third World democracy despite having a developed world mentality, while Malaysia has a Third World mentality but a developed world democracy.”

We had plenty of racist rhetoric from the fascists/extremists. Candle-light vigils disrupted. We had cycling children apprehended. Then came the Perak coup in which hooligans took control of the State assembly with the support of Najib. Then the threats of violence by a group of hoodlums disguised as NGO at the anti-ISA rally. We had Teoh Beng Hock die with the "cooperation" of MACC. We had some two-bit "Islamists" threatening violence and blood using a cow head, with an "inexperienced" police force looking on. Lately. we had Najib openly announcing that he "wants" Selangor, despite the people's mandate. And today, we have Aduns arrested in Perak. (That's the "developed world democracy" Zam speaks of!)
All these, while he goes around proclaiming a "1-Malaysia" - devoid of Law & Order.

To me, there is a very obvious pattern of events that are taking place - "somebody", it appears, is desperately trying to subvert the the whole system that holds the country together. This "somebody" needs to rally one sector of society against all the others, whose support they have lost (and have no hope of regaining).
The temperature is being raised, and those on the offensive are now bent on creating a very nervous society which can one day "snap", and then run riot. This will bring about calls to curtail civil liberties and "stern action". It is being made increasingly obvious that the lazy Home Minister isn't too keen on the "review" of the ISA, as it was a convenient tool to be used on dissenters on the pretext of "national security".

To make it possible for them to retain ISA and other draconian laws (like the Police Act, PPPA, Sedition Act, UUCA and the OSA), they seem to need some level of "insecurity". The people (mainly the Malays) need to feel insecure - and only then can these archaic laws be retained. They need to feel like they are defending something that means everything to the Malays - and "hang the other Malaysians", and hold them at ransom (that includes the "bumiputeras or pribumis" in the penisular or Sabah and Sarawak).
They need to raise the temperature of politics and threaten the public with chaos and trouble. The Malays must be made to feel that they will lose everything, when they never did gain much - beyond the political hogwash and racist rhetoric peddled by their Umno masters. They want us to ask for "stern action" against dissenters.

So what we have now is the creation of 2 Malaysias in "1-Malaysia" .... one has to hold the other by the balls. That is the "Pekan Formula" .... that is Ketuanan UmnoPutera.

cruzinthots.blogspot.com

20090904

The Dumbing-Down of Bolehsia.

******************************************************

Whatever Mahathir's lazy and myopic Vision 2020 may say, it is my belief that a "first-world " nation is built on the foundation of viable philosophical ideas nurtured by their intellectuals and politicians - and not the physical attributes as in KLCC, Putrajaya, Cyberjaya etc. Rather than investing in intellectual growth, the myopic authorities we have would rather spend our limited resources at their disposal, to create physical monstrosities in their pursuit of material wealth. As a result, we have the common man gawking at the physical progress, with little spiritual/intellectual growth that makes such physical growth sustainable.

New ideas are more often than not, demonized and dismissed even before it is discussed in a civilized manner. Mob mentality is subtly encouraged by the authorities, to prevent discussions or forums that highlight progressive ideas or the failures of the Umno warlords in ruling the country. A free Media and Democracy which is the saving grace of the nation, are subverted by fascists who reason that religious bigotry, racial dominance and racism has to remain the paramount priority.

The ruling elite, through the Information and Education ministries however believe otherwise - and as such, indulge in the systematic emasculation of the electorate which surrenders itself to them (read Umno). Unknown to many Malaysians, the real target of this dumbing-down, is non other than the Malay people themselves - so that they are easily hoodwinked into submission to the "glorious Umno leadership". This group of Malay elite have managed to successfully indoctrinate a clueless people that they, and only they can be and will be the sole guardians of the Malay people - and as such, are indispensable. The basic simplistic "philosophy" that they propagate is this - "Malay dominance under the Umno elite - at any cost". It doesn't matter if they are corrupt and plunder the country's resources. Never mind if, a generation of unthinking graduates are created. Never mind if we have a nation of pseudo-intellectual "basket-weavers" and rempits. Never mind the numerous bogus degree/ PhD holders. Never mind the refusal of PR status for the numerous professionals (and/or spouses). What matters is that we have Umno to represent a people satisfied with their own mediocre standards of "Cemerlang, Gemilang and Terbilang".

Today, you have the moronic Muhyiddin and Khairy defending a disbarred Rohaizat (who also denies having an unregistered second spouse), as a worthy candidate, while saying that it matters not if he has a credible past, and all that matters is that he can "bring development" under the BN banner.
We also have the Malay MSM/tabloid propagating fascist ideas like - "Democracy is meaningless if Malays were to lose political dominance" and that Malays are cowards for not "rising up against the boldness of the non-Malays". There was once a commenter on MalaysiaToday (long before the March 8 "tsunami"), who even said that he "would rather swing from tree to tree in the jungles with the comfort of knowing that Malays rule the the country, than achieve progress while living under the political dominance of 'pendatangs'"! The strangest part of it all is the fact that we have a cadre of political midgets who strive to defend mindless remarks such as these, by regarding them as "Malay nationalists"!

There is this "lazy" habit which is adopted and encouraged by the BN elite - that of seeking the easy way out and neglecting the use of clear, definite and precise expressions to articulate complex ideas that abound. Simplistic understanding of complex problems coupled with ideas that pander to the lowest social denominator appear to be the standard response in all that come to light - and the rest are just swept under the carpet. It is as clear as daylight that there is an “impediment” in their ability to conceive philosophical problems in a clear and unambiguous manner, or to articulate their response to it in a coherent manner. This "lazy" attitude is also seen in many of the projects undertaken by the ruling elite of this country. They are more concerned about the propagation of simplistic ideas, that highlight the differences between communities, so as to create confusion and mutual suspicion among the people - to make their role of "peacemakers", indispensable.

Chief among those are attempts at creating an academic community of politically enslaved intellectual amoebas, whose job is to twist and spin ideas that perpetuate the narrow & fascistic agenda of politicians, who seek to consolidate their grip on power.
One significantly lazy idea (among others), was the "formula for the short-cut to success" which was masterminded by none other than our dear Tun Dr. Mahathir - the introduction of PPSMI. He even went on to claim that Malaysians (especially the Malays) will be stupid if they did not accept PPSMI!!
(**Excuse me, TDM sir, but I don't think Umno needs any help in achieving the “Stupid” status – you got them there long ago - even with the English education which you had).
This myopic idea was mooted with total disregard for the necessity to develop scientific/literary/commercial progress in the Malay language, which remains the one identifying and unifying factor of the Malay majority and the nation as a whole. The fact that the emasculation of the language would affect its role as a tool of progress for the vast majority of Malaysians who are now more well-versed in Malay than English, was totally ignored. The linguistic disconnect which the vast majority of under-privileged may suffer would also be a serious destabilizing factor in the long run.
This is not to imply that English is to be disregarded or ignored - on the contrary, proficiency in English has to be developed in tandem with that of Malay as a tool of communication in society, trade, research and in literature – through increased utilization.
One more new "lazy" idea that has come out (of Mahathir too?) of late is the idea of having the Chinese media translate themselves into Malay- for the benefit of those who are too lazy to learn and translate the language themselves!

One can also see the lack of reading material (original or translated) in the Malay language when it comes to higher levels of knowledge in any and all fields - be it the arts/ literature, Law, science, mathematics, politics, philosophy, religion. No effort is also made on part of the authorities to encourage the translation of classics in foreign languages. Almost all of the educated class (except for the vast majority of the half-baked academics) are forced to do their thinking in English, and due to the limited nature of the Malay language, are unable to translate complex ideas coherently into Malay.

It is quite clear that the Umno elite chooses by design, to systematically paralyze the minds of ordinary Malaysians (mainly the Malay community), while appearing to strive for excellence and progress. Unknown to many, the truth is exactly the opposite of what they claim. Contrary to what many of their followers believe, it is in Umno's interest that they make the “Myth of the Lazy Malaysian”, become reality. What they want is none other than the dumbing-down of Malaysians, to create a community rich with graduate "basket-weavers", who take pride in their ability to be unthinking pseudo-intellectual zombies. To do otherwise, would spell doom to the future of UMNO as we know it. It is just to bad that Umno has miscalculated in its arrogance, and so BN is now on shaky ground - and as such, its days are numbered.

With the control over the mainstream media it had for propaganda, it did not figure the internet in the equation - they realized too late that they cannot have a monopoly on the media, unless it wishes to go back to the stone age. They do not control knowledge or information any longer, as the internet has "liberated" the media to a certain extent. Using the Police and the MACC, no matter what they do to subvert Pakatan state governments and Democracy for now - (which they may very well succeed, considering Umno's power, bigoted/racist mindsets and PR's poor "planning, organization & teething problems")- it is just a matter of time before Malaysians rise up once again to emancipate themselves, and throw these Umno warlords out of the corridors of power for good.

****************************

"I say, let these powers be abused, and you will see
how the people in the country will rise against it.”

- Tun Dr. Ismail, debating the ISA

***************************************

Pemilik senjata kejutan elektrik boleh dipenjara

KUALA LUMPUR: Orang awam yang disabit dengan kesalahan memiliki senjata kejutan eletrik "taser" dan "stun gun" yang dapat membuatkan mangsa lumpuh untuk sementara waktu, boleh dikenakan hukuman penjara.

Pengarah Jabatan Siasatan Jenayah, Datuk Seri Mohd Bakri Zinin, berkata masih ramai yang tidak sedar bahawa senjata ini disenaraikan sebagai senjata berjadual dibawah Akta Bahan-Bahan Kakisan, Letupan, Senjata Berbahaya 1958.

"Sesiapa yang didapati membawa, memiliki atau mengawal, mengeluar, menjual, menyewa, mendedahkan bagi tujuan menjual atau menyewa, meminjamkan atau berikan kepada sesiapa jua senjata taser dan stun gun ini, mereka boleh didakwa dengan kesalahan di bawah Seksyen 7 (1) Akta berkenaan," katanya dalam satu kenyataan di sini hari ini.

Beliau berkata, jika disabit kesalahan, tertuduh boleh dijatuhi hukuman penjara bagi tempoh tidak lebih dua tahun, atau didenda tidak lebih RM2,000 atau kedua-duanya sekali.

Mohd Bakri berkata, beberapa pihak menyuarakan kebimbangan sejak kebelakangan ini apabila senjata berkenaan didapati mudah diperolehi oleh orang ramai, dan polis turut menyuarakan kebimbangan mengenainya kerana ia membangkitkan beberapa isu yang berkaitan dengan soal keselamatan.

Beliau berkata, orang ramai perlu sedar bahawa memiliki senjata taser ataupun stun gun ini adalah satu kesalahan.

"Pemeriksaan rapi akan diadakan di premis-premis yang disyaki menjual senjata-senjata ini dan sesiapa yang didapati menjualnya akan dikenakan tindakan mengikut akta berkenaan," katanya. - Bernama

Dunia-Politik.blogspot.com - Digest Number 1921

There is 1 message in this issue.

Topics in this digest:

1. Pernyataan Solidaritas PRP untuk korban gempa Tasikmalaya
From: Perhimpunan Rakyat Pekerja


Message
________________________________________________________________________
1. Pernyataan Solidaritas PRP untuk korban gempa Tasikmalaya
Posted by: "Perhimpunan Rakyat Pekerja" prp_pusat@yahoo.com prppusat
Date: Thu Sep 3, 2009 9:41 pm ((PDT))








PERNYATAAN
SOLIDARITAS

PERHIMPUNAN
RAKYAT PEKERJA
Nomor:
128/PS/KP-PRP/e/IX/09


Solidaritas
terhadap rakyat pekerja yang menjadi korban gempa Tasikmalaya !!!


Salam
rakyat pekerja,
Indonesia
kembali dikejutkan dengan bencana alam. Pada tanggal 2 September
2009, di perairan selatan Jawa Barat atau 142 kilometer barat daya
Tasikmalaya, mengalami gempa tektonik sebesar 7,3 SR, di kedalaman
lebih dari 30 kilometer. Dampak gempa tersebut sangat besar, bahkan
getaran gempa tidak hanya dirasakan di Jawa Barat, Jakarta, Jawa
Tengah, tetapi hingga Jawa Timur dan beberapa daerah Sumatera.
Kepanikan pun melanda masyarakat di beberapa kota besar di Indonesia,
termasuk Jakarta.
Gempa
yang awalnya diduga berpotensi tsunami tersebut akhirnya telah
menelan korban dan menyebabkan kerugian material. Diketahui hingga
saat ini, korban jiwa meninggal telah mencapai 59 orang dan ratusan
orang menderita luka berat serta luka ringan. Bahkan masih dikabarkan
bahwa puluhan orang masih hilang akibat gempa tersebut.
Sementara
ribuan orang terpaksa mengungsi dari daerahnya masing-masing karena
rumahnya rusak berat. Kerusakan yang diakibatkan oleh gempa kemarin
memang tidak tanggung-tanggung. Sekitar 10.695 unit rumah roboh/rusak
berat dan 13.157 unit rumah mengalami rusak ringan. Belum jika
dihitung dengan kerusakan yang dialami institusi-institusi
pendidikan, tempat ibadah dan tempat usaha yang juga menjadi korban
keganasan gempa.
Gempa
bumi tentunya tidak bisa dicegah keberlangsungannya. Namun tentunya
kemunculan gempa tersebut seharusnya dapat diprediksi sehingga tidak
menimbulkan korban jiwa yang sangat besar. Ini jelas merupakan
kelemahan dari pihak pemerintah untuk memprediksi kemunculan gempa
tersebut, sementara pembaharuan alat-alat untuk mendeteksi gempa dan
tsunami telah dilakukan. pembaharuan alat-alat teknologi tersebut
dilakukan mengingat wilayah Indonesia sangat rentan terhadap bencana
alam.
Selain
itu, kelambanan pihak pemerintah dalam merespon terjadinya gempa
tersebut sangat dirasakan oleh masyarakat korban. Pemerintah baru
hari ini melakukan persiapan-persiapan untuk memberikan bantuan
kemanusiaan. Sementara pertolongan terhadap korban bencana alam
seharusnya telah dilakukan semenjak kemarin.
Terlepas
dari kelambanan pihak pemerintah dalam mengantisipasi dan merespon
terjadinya bencana, di sisi lain banyak sekali rakyat pekerja yang
saat ini telah menjadi korban. Bukan hanya kerusakan rumah yang
dialami oleh masyarakat disana, namun tempat mereka bekerja pun ikut
hancur. Hal ini jelas akan menyebabkan masyarakat akan kehilangan
pekerjaan dan penghasilannya selama ini.

Untuk
itu, Perhimpunan Rakyat Pekerja menyatakan sikap:

Turut
bersolidaritas dan berduka terhadap seluruh korban bencana alam
(gempa bumi) yang terjadi pada tanggal 2 September 2009 dimanapun
berada.

Menuntut
kepada pemerintah pusat dan daerah untuk segera sigap, tanggap, dan
responsif dalam menanggulangi kejadian-kejadian bencana alam di
Indonesia. Selain itu, pihak yang berwenang pun harus sigap terhadap
kemungkinan-kemungkinan bencana alam yang akan terjadi di Indonesia
di kemudian hari, sehingga akan meminimalisir korban jiwa.

Menyerukan
kepada seluruh elemen gerakan rakyat agar dapat bersatu dan
memberikan solidaritas dan bantuan kepada korban bencana alam akibat
gempa Tasikmalaya 2 September 2009. Untuk itu diperlukan
penggalangan solidaritas yang tinggi dari sesama rakyat pekerja di
Indonesia, dengan mengumpulkan dan memberikan bahan-bahan makanan,
pakaian, hingga dana pada korban bencana alam tersebut.







Jakarta,
4 September 2009



Komite
Pusat
Perhimpunan
Rakyat Pekerja
(KP-PRP)




Ketua Nasional


Sekretaris
Jenderal






ttd.
(Anwar Ma'ruf)




ttd.
(Rendro Prayogo)




filtered {margin:0.79in;}P {margin-bottom:0.08in;}-->___*****___Sosialisme Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja!
Sosialisme Solusi Bagi Krisis Kapitalisme Global!
Bersatu Bangun Partai  Kelas Pekerja!

Komite Pusat
Perhimpunan Rakyat Pekerja
(KP PRP)
JL Kramat Sawah IV No. 26 RT04/RW 07, Paseban, Jakarta Pusat
Phone/Fax: (021) 391-7317
Email: komite.pusat@prp-indonesia.org / prppusat@gmail.com / prppusat@yahoo.com
Website: www.prp-indonesia.org


Messages in this topic (1)

Ahli yang menghantar menggunakan kata-kata kesat dan kasar atau menyerang peribadi ahli yang lain, email mereka tidak akan disiarkan.

Ahli group yang sentiasa menghantar email berkenaan politik sahaja akan disiarkan emailnya tanpa penapisan moderator group.

Email yang disiarkan dipertanggungjawabkan kepada pengirim email tersebut dimana moderator dan group tidak boleh dipertanggungjawabkan.

=============================================
Link List:
• Lirik Lagu Popular - http://www.lirikpopular.com
• Spa Q - http://spa-q.blogspot.com
• Auto Insurance - http://pdautoinsurance.blogspot.com

------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/dunia-politik/

<*> Your email settings:
Digest Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/dunia-politik/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:dunia-politik-normal@yahoogroups.com
mailto:dunia-politik-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
dunia-politik-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

------------------------------------------------------------------------

20090903

The "Secular" Controversy

***********************************
"Had Allah willed He could have made you all one community? But He made you as you are (diverse) as a test. So vie one with another in good works. Unto Allah you will all return, and He will then inform you of the meaning of differences within you."

[Quran 5:48].

"Many of our perceptions are distorted by our prejudices, particularly if we perceive those prejudices to be convictions".
-
Ravi Zacharias

**************************************

There is this constant "threat" of a spiritual war - at least in their minds.
In their fervour, the "religious right" never tire of debating on these matters.
These "necessary wars" go on ad infinatum, ad nauseaum, so as to keep the "fire of God" burning in the hearts of men.
Of late there have been a few articles published in Malaysia Today, catering to this debate - controversies starting with the Hijab, scarf, "sexy" school uniforms , and then the question of the "secular state".

Let us take the Malaysian political climate into consideration.
Here is a "Pakatan" at it's infancy (not a formal coalition, in the real sense of the word - they don't even have a common symbol or identity as yet) that is trying to achieve a paradigm shift in our political structure.
There are two stumbling blocks for this pact, towards achieving unity in purpose.
One is the question of "the secular state" - a tussle between the staunchly "secularist" DAP, and PAS - which is passionate about being Islamic.
The other is that of the agent provocateur on the sidelines who needs to dismantle this "pact", so as to perpetuate their racist/ religious hegemony in the interests of the "putra elite".

The debate about "Islamic State/ values" is the perfect tool to drive a wedge between the parties mentioned above, and have no doubt in my mind that it would be used to the hilt by the agent provocateurs to achieve their goals. Is it possible that more of these controversies would be highlighted by the Putra-philes so as to jeopardize the "uneasy pact" of the "Pakatan Rakyat"?.

Anyway, although the "secular" spirit has been articulated in general in our constitution without specifically stating it, many have failed to understand and accept this fact. To many a staunch Muslim, "Secular" is a "four-letter-word" - at least, as they understand it.

The argument often brought about is that the Malaysian Federal Constitution does not say that Malaysia is a secular state. Those who espouse this argument, need to understand why the constitution is worded in such a way.
Allow me to quote from The Australian Achievement: From Bondage To Freedom by Dr. Mark Cooray
"The rule of law requires both citizens and governments to be subject to known and standing laws. The supremacy of law also requires generality in the law. This principle is a further development of the principle of equality before the law. Laws should not be made in respect of particular persons. As Dicey postulated, the rule of law presupposes the absence of wide discretionary authority in the rulers, so that they cannot make their own laws but must govern according to the established laws. Those laws ought not to be too easily changeable. Stable laws are a prerequisite of the certainty and confidence which form an essential part of individual freedom and security. Therefore, laws ought to be rooted in moral principles, which cannot be achieved if they are framed in too detailed a manner."

For one thing, DAP needs to articulate what it means to be a "Secular State". They need to be able to articulate their ideas, so as not to alarm the "religious".
They need to be able to convince PAS and Islamists alike, that "secularism" isn't the "dirty word in Islam" (a popular notion in the Islamist's camp), that it is made out to be. For this to happen, DAP definitely needs to understand and relate to the philosophical basis of "secular humanism", Islam & the "Islamic politician's" psyche better, instead of simply "defining the constitution" and harping on the "secular state" rhetoric.
They need to have a think-tank who can articulate the idea that Islam is compatible with "secular humanism", as opposed to the stereotype perceptions.

There is a belief among the religious that "secular humanism" is "anti-God".Myths are created towards propagating these ideas while the achievements of "secularists" are conveniently ignored or belittled.

The advocates of theocracies need to understand that-
"Humanists are staunch supporters of freedom of religion, belief, and conscience, as laid out in both the U.S. Constitution and the Universal Declaration of Human Rights. These rights protect the freedom of religious belief equally with the freedom of nonreligious belief, the freedom of religion equally with the freedom from religion.
Secular humanists would actually oppose advocacy of their worldview by schools or the government because that would violate the neutrality of a secular society, and the rights of religious believers. Secular humanists believe that a healthy society supports a variety of worldviews, just as it supports a variety of political parties. They also believe that religious and philosophical views should be every bit as open to debate and discussion as political beliefs."
-10 Myths About Secular Humanism

PAS on the other hand, needs to articulate their ideas on an "Islamic State" better.
One that can be inclusive in its ideas based on "Universal Values" (which are incidently, very Islamic), by not espousing arbitrary repressive laws that belonged to a different time, age and culture, which are supposedly "Islamic". They should understand that resigning one's fate to "God-ordained" laws without sufficient intellectual debate or consensus, isn't an option in this era of ICT.

It is ironic that there are many prominent Islamic thinkers who believe that the philosophical/moral/ethical premises of the Constitution of USA is far more "Islamic" and superior than that of many a "chest-thumping Muslim" nation of the OIC - and rightfully so, too.
Academic debate on these matters at our hallowed halls of educational excellence is however, quite constipated at best (and we have the HP6 ideologues of our nation to thank for that) - usually dwelling on "accepted ideals".
These topics are deemed too "sensitive" - just as mentioning "May 13" was, not so long ago (unless it was to threaten for votes, of course). Our leaders believe that the masses are simply incapable of civilized conduct, and would foam at their mouths with the first mention of any misconception.

PAS should be aware that the lack of open inter-faith dialogue and exagerated sensitivities help "those with vested interests", in demonizing PAS in the eyes of the non-Muslims. It aids them further, should the masses remain in ignorance and get emotional in response to perceived insults, without rationally addressing their fears and insecurities.
It is a formula for governance that has worked well over the centuries for the despotic regimes of theocracies, monarchies and many a pseudo-democracy or socialist state.
Therefore, one would do well to pay heed to what Voltaire meant when he said :-
“So long as the people do not care to exercise their freedom, those who wish to tyrannise will do so; for tyrants are active and ardent, and will devote themselves in the name of any number of gods, religious and otherwise, to put shackles upon sleeping men.”


Therefore, what matters isn't really the populist rhetoric of politicians advocating "virtuous" systems of governance (based on debatable ideas deemed "holy"), but the well defined and thought out set of progressive values and ideas that allow for freedom and embraces humanity as a whole, in all its diversity.

===================================
"It will not do to cling to the cause and wish the result away.
Reality does not play mind games.
What is more, to anesthetize the mind in order to abort what comes to birth
when wrong ideas are conceived and borne in the womb of culture,
will only kill the very life-giving force of the nation that nurtures the idea."
-Ravi Zacharias

=================================

cruzinthots.blogspot.com

Kedudukan Adun Pelabuhan Klang lepas raya

SHAH ALAM: Kedudukan Ahli Dewan Undangan Negeri (Adun) Pelabuhan Klang, Badrul Hisham Abdullah, daripada Parti Keadilan Rakyat akan diketahui selepas hari raya nanti, kata Menteri Besar, Tan Sri Abdul Khalid Ibrahim.

Beliau berkata, Badrul Hisham telah diberikan surat tunjuk sebab dan perlu menjawabnya dalam tempoh 14 hari mengenai ketidakupayaan beliau menjalankan tugas sebagai Adun dengan berkesan.

Bagaimanapun, Abdul Khalid enggan menjawab ketika ditanya sama ada Badrul Hisham akan dikenakan tindakan disiplin atau kerusi yang disandangnya itu akan dikosongkan.

"Keputusan akan dibuat selepas mengambil kira perbincangan yang diadakan dengan Badrul sendiri dan Speaker Dewan Negeri, Teng Chang Khim," katanya kepada pemberita selepas mempengerusikan mesyuarat esco kerajaan negeri di sini hari ini.

Abdul Khalid berkata, Badrul Hisham kini dalam keadaan uzur dan tidak dapat bersama-sama beliau dalam program Sultan Selangor, Sultan Sharafuddin Idris Shah, berbuka puasa bersama rakyat di sebuah masjid di Pandamaran minggu lepas.

"Badrul masih lagi menerima elaun dan gajinya walaupun tugas beliau sebagai wakil rakyat dibantu oleh rakan-rakan Adun lain," katanya. - Bernama

Dunia-Politik.blogspot.com - Digest Number 1920

There is 1 message in this issue.

Topics in this digest:

1. 7 Langkah: Asas Pengurusan Kewangan
From: afyan afyan


Message
________________________________________________________________________
1. 7 Langkah: Asas Pengurusan Kewangan
Posted by: "afyan afyan" afyan.ikhlas@gmail.com afyan2ikhlas
Date: Wed Sep 2, 2009 8:20 pm ((PDT))

Baca artikel penuh: www.afyan.com

Selaku seorang perunding takaful dan kewangan Islam, adalah menjadi tugas
saya untuk menerangkan konsep pengurusan kewangan secara umum.

Di dalam setiap pembentangan secara personal atau taklimat, saya akan
mulakan dengan konsep pengurusan kewangan secara umum sebelum fokus kepada
takaful.
Ia bertujuan supaya klien saya memahami bahawa takaful merupakan salah satu
daripada pelbagai instrumen yang lain.

Secara umumnya, asas pengurusan kewangan saya simpulkan kepada 7 langkah dan
peringkat, sebagaimana berikut;


**

1. *PENDAPATAN (**Income**);
*Sumber kewangan adalah PENDAPATAN. Sumber PENDAPATAN adalah daripada
pekerjaan seharian kita. Daripada kerja kita itu, barulah kita memperoleh
gaji atau PENDAPATAN. Hanya orang yang mempunyai PENDAPATAN perlu untuk
menguruskan wang mereka. Jika seseorang itu tidak ada PENDAPATAN,
bagaimanakah dia ingin mengurus kewangan?
2. SIMPANAN (*Saving*);
Ia menjadi teras kepada pengurusan kewangan. Jika seseorang itu gagal
untuk menguruskan SIMPANANnya dengan baik, agak sukar untuk dia mengurus
instrumen-instrumen kewangan yang lain. SIMPANAN menjadi faktor utama untuk
peringkat-peringkat pengurusan kewangan seterusnya.
3. PERBELANJAAN (*Expenses*);
Ia merujuk kepada perbelanjaan harian seperti rumah, makan, minum,
kenderaan, dan sebagainya. Selalunya ia menjadi perkara utama selepas setiap
orang menerima gaji, iaitu;
PENDAPATAN – PERBELANJAAN = SIMPANAN
Tetapi, yang sepatutnya ialah;
PENDAPAAN – SIMPANAN = PERBELANJAAN
Seharusnya kita perlu MENYIMPAN terlebih dahulu sebelum BERBELANJA.
4. PERLINDUNGAN (*Protection*);
Dalam kita bekerja untuk memperoleh PENDAPATAN, dan membuat SIMPANAN,
kita seharusnya untuk memastikan kedua-duanya itu dilindungi. Di sinilah
fungsi PERLINDUNGAN, iaitu untuk memberi perlindungan kepada PENDAPATAN dan
SIMPANAN kita apabila berlaku musibah. Dengan adanya PERLINDUNGAN, kita
dapat mengekalkan kedua-dua PENDAPATAN dan SIMPANAN. Instrumennya ialah
takaful dan insurans.
5. PELABURAN (*Investment*);
Inflasi akan menurunkan nilai SIMPANAN kita. Jadi, di sini perlunya untuk
seseorang itu untuk membuat PELABURAN sekurang-kurangnya untuk melawan
inflasi. Lebih jauh lagi, fungsi PELABURAN adalah untuk meningkatkan
PENDAPATAN dan SIMPANAN. Apabila bercakap tentang PELABURAN, ia akan berkait
rapat dengan risiko.
6. PENYUCIAN (*Purification*);
Dalam mencari harta dan wang, Islam mewajibkan zakat untuk memastikan
setiap wang dan harta yang kita miliki bersih dan suci. Ada sebahagian harta
yang kita cari adalah hak dan milik orang lain yang kurang berkemampuan.
Jadi, di sinilah fungsi PENYUCIAN bagi membersihkan harta benda kita. Malah,
di dalam undang-undang negara pun ada mewajibkan cukai ke atas rakyat
jelata. Selain itu, sedekah dan amal jariah juga di bawah langkah PENYUCIAN.
7. PEMBAHAGIAN (*Distribution);*
Harta benda yang kita cari dan simpan, tidak akan dibawa ke kubur.
Selepas kematian kita, ia menjadi milik orang lain pula. Jadi di sinilah
fungsi wasiat, dan faraid untuk memastikan PEMBAHAGIAN harta kita berjalan
lancar. Ia kadang-kadang dilupakan oleh kebanyakan orang kerana menganggap
faraid sudah ada. Ya, betul faraid itu hak, tetapi perlu ada elemen
penyediaan wasiat supaya proses PEMBAHAGIAN mengikut faraid berjalan
lancar.


--
Ikhlas dari Afyan :)
Phone: 013-353 4967
Blog: http://www.afyan.com


Messages in this topic (1)

Ahli yang menghantar menggunakan kata-kata kesat dan kasar atau menyerang peribadi ahli yang lain, email mereka tidak akan disiarkan.

Ahli group yang sentiasa menghantar email berkenaan politik sahaja akan disiarkan emailnya tanpa penapisan moderator group.

Email yang disiarkan dipertanggungjawabkan kepada pengirim email tersebut dimana moderator dan group tidak boleh dipertanggungjawabkan.

=============================================
Link List:
• Lirik Lagu Popular - http://www.lirikpopular.com
• Spa Q - http://spa-q.blogspot.com
• Auto Insurance - http://pdautoinsurance.blogspot.com

------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/dunia-politik/

<*> Your email settings:
Digest Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/dunia-politik/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
mailto:dunia-politik-normal@yahoogroups.com
mailto:dunia-politik-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
dunia-politik-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

------------------------------------------------------------------------

Alexa Traffic Rank

Subscribe to dunia-politik

Subscribe to dunia-politik
Powered by groups.yahoo.com