20100521

Dunia-Politik.blogspot.com - Digest Number 2030[1 Attachment]

There are 3 messages in this issue.

Topics in this digest:

1. Jemputan ke Forum menangangi Gejala Sosial - di Shah Alam
From: Ahmad

2. Pidato Politik KP-PRP untuk 12 Tahun Reformasi
From: KP-PRP

3. SN _ Terbaru Poligami
From: Ahmad


Messages
________________________________________________________________________
1. Jemputan ke Forum menangangi Gejala Sosial - di Shah Alam
Posted by: "Ahmad" ahmus@yahoo.com ahmus
Date: Thu May 20, 2010 2:15 am ((PDT))

Para Muslimin dan Muslimat adalah
dijemput
ke Forum Khilafah yang bertajuk "Mencari
Penyelesaian Gejala Sosial dalam Masyarakat "
anjuran Hizbut Tahrir Malaysia dengan kerjasama Khilafah Center
. Maklumat seminar adalah seperti berikut:

Tarikh : 22hb Mei 2010 (Sabtu)
bersamaan 8 Jamadilakhir 1431 HWaktu : 0830 pagi - 1:00 petang

Tempat : Masjid Ubudiyah, Seksyen 19, Shah Alam,

(
Berhampiran Komuter Shah Alam ).

Masuk Adalah Percuma (Makanan ringan
disediakan)

Sesuatu yang pasti dan Pasti dilalui adalah
Kematian. Setiap patah perkataan yang kita tulis
Ada yang menghisabnya.

Ahmus


Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
2. Pidato Politik KP-PRP untuk 12 Tahun Reformasi
Posted by: "KP-PRP" prppusat@yahoo.com prppusat
Date: Thu May 20, 2010 2:43 am ((PDT))







Pidato Politik
Pimpinan
Komite Pusat Perhimpunan Rakyat Pekerja

Nomor:
237/PI/KP-PRP/e/V/10

(Disampaikan
pada 12 Tahun Reformasi)


Satukan
Tindakan: Galang Persatuan Organisasi Rakyat Pekerja!


Jakarta,
20 Mei 2010


tanggalkan
kacamata kuda itu!

yang
sangat lama membelenggu

membatasi
penglihatan

menyempitkan
pikiran

menumpulkan
perasaan
(cuplikan
puisi kacamata kuda dalam
Angin Burangrang: Sajak-sajak Petani
Tua, oleh Samsir Mohamad)

Kawan-kawan
seperjuangan,

Tidak
terasa, sudah 12 tahun perjalanan reformasi di Indonesia yang diawali
dengan tumbangnya diktator militer Soeharto dari kursi kepresidenan
(yang didudukinya selama 32 tahun) pada tahun 1998, sebagai akibat
dari semakin meningginya aksi-aksi perlawanan jutaan rakyat di hampir
seluruh daerah Indonesia. Peristiwa pada 12 Mei 1998 tersebut
menambah catatan pada perjalanan sejarah perjuangan rakyat pekerja,
dalam bulan Mei, melawan rezim serta sistem yang menindas dan
menghisap.


Reformasi
Hanya Ilusi

Kawan-kawan
seperjuangan,

Bulan
Mei menyimpan puzzle-puzzle arus balik kesadaran yang
menciptakan peristiwa-peristiwa yang memaknakan adanya api perlawanan
rakyat pekerja kepada rezim kekuasaan. Kita awali dengan peristiwa 1
Mei yang kemudian ditetapkan menjadi Hari Buruh Internasional adalah
puncak keberhasilan Kongres Internasionale Kedua di Paris pada tahun
1889, dimana Raymond Lavigne mengajukan usulan untuk mengadakan
demonstrasi pada tanggal 1 May 1890 sebagai peringatan dan
penghormatan terhadap pembantaian Hay Market di Chicago tahun 1886.
Selanjutnya, di seluruh dunia sampai saat ini, seluruh
serikat-serikat buruh dan didukung elemen gerakan sosial menjadikan 1
Mei (kemudian disebut May Day) sebagai ekspresi kesatuan aksi
massa yang teguh dan sebagai serbuah metode perjuangan untuk
Sosialisme, yang dipimpin kelas pekerja (Rosa Luxemburg, 1913). Belum
lama ini pun kita memperingati dan menetapkan 8 Mei sebagai Hari
Perjuangan Buruh Perempuan berdasarkan momentum kematian Marsinah
–buruh perempuan yang ketika sedang melakukan aksi pemogokan.

Sedangkan
2 Mei ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional untuk memperingati
hari kelahiran Ki Hajar Dewantoro, yang mewujudkan pendidikan
alternatif untuk melawan hegemoni kolonial melalui sistem pendidikan
yang rasis kepada kaum pribumi. Bahkan hingga saat ini sistem
pendidikan kita masih dalam cengekraman rezim neoliberal yang
menghendaki rakyat pekerja dunia ketiga sebagai tenaga
kerja tidak terampil dan tidak mempunyai kemampuan mencipta selain
merakit belaka.

Dua
belas tahun lalu, belumlah sirna dari ingatan kita, terjadinya
penembakan terhadap mahasiswa Universitas Trisakti pada 12 Mei 1998,
di tengah perjuangan mahasiswa menumbangkan rezim Orde Baru. Belum
kering air mata untuk itu, tiba-tiba meledak peristiwa yang sampai
sekarang tak dapat kita pahami, yakni kekacauan massal yang dipimpin
orang-orang tak jelas yang membakar bangunan pemukiman dan pertokoan
di Jakarta, melakukan penjarahan barang-barang, dan kekerasan seksual
terhadap perempuan Tionghoa. Sungguh aneh, di tengah kekacauan
sebesar itu tiba-tiba ratusan pasukan militer yang sebelumnya
berhadap-hadapan dengan gerakan mahasiswa, lenyap dari pemandangan.
Perlawanan rakyat yang dipelopori gerakan mahasiswa pada akhirnya
memenangkan pertarungan, yang mengakhiri jabatan Soeharto sebagai
presiden pada 21 Mei 1998. Pada hari yang hampir sama, 102 tahun yang
lalu, pada 20 Mei 1908 di Batavia, para pemuda mengukuhkan arus balik
kesadaran mereka dengan memangun sebuah organisasi yang melawan
hegemoni ideologi kolonial. Organisasi pemuda itu diberi nama Boedi
Oetomo. Sekali pun masih terasa Jawa-sentris namun hakekatnya adalah
menyalanya percik api perlawanan.

Namun,
selalu dan selalu kemenangan rakyat itu kemudian diplintir dan
dijarah oleh kekuasaan borjuasi. Mereka ini yang menghendaki
kapitalisme ala imperialisme dan neoliberalisme, tetap menata
Indonesia sebagai sumber bahan mentah, tenaga kerja, dan sekaligus
pasar. Kemenangan gerakan rakyat menurunkan Soeharto akhirnya
diplintir sebatas gerakan reformasi ala neoliberal demi merestorasi
sumber-sumber ekspolitasi dan distribusi di Indonesia. Ini semua
dalam rangka pemulihan krisis keuangan global pada 1997, dimana
keterbukaan politik di Indonesia menjadi syarat. Mahasiswa dan
rakyat, bahkan yang menjadi korban krisis ekonomi 1997 dan kejahatan
kemanusian 12-14 Mei 1998, tersingkir dan terasing dari arah
reformasi itu sendiri. Beberapa di antaranya kehilangan kepercayaan
terhadap gerakan rakyat dan memilih menjadi bagian dari status quo
borjuasi.


Sangat
teranglah, reformasi otoritarian Orde Baru merupakan jalan lurus
membangun Indonesia sebagai negara pasar yang dikontrol rezim
neoliberal. Reformasi hanyalah sebuah rute yang penuh ilusi
menuju demokrasi dan pertumbuhan ekonomi membaik. Terbukti rakyat
pekerja yang jumlahnya 90% dari seluruh angkatan kerja di Indonesia
(BPS, 2007) kian menghadapi pilihan-pilihan yang langka untuk hidup
dan survive. Kerja sebagai petani, buruh pabrik, nelayan,
sopir, pekerja seks, bahkan pencopet, bukanlah pilihan bebas sebuah
profesi untuk "menjadi" (to be). Ini merupakan persoalan
ketika tanah dan laut makin banyak dirampas untuk investasi,
sedangkan pada tahun 2004 sistem kerja outsourcing dan PHK
massal menjadi hantu bagi ratusan ribu buruh. Maka yang terjadi
adalah tenaga kerja yang mengambang tanpa basis produksi yang pasti.
Inilah faktanya, reformasi terbukti mempercepat proletarisasi di
Indonesia, dan mereka ini bertahan hidup dengan utang dalam berbagai
bentuk yang natura maupun uang. Maka, patutlah dipertanyakan,
darimana angka pertumbuhan ekonomi anatra 4-7 persen itu diperoleh,
jika utang merupakan sendi perekonomian mikro, baik untuk menutup
biaya produksi maupun konsumsi rumah tangga buruh, petani, nelayan,
dan rakyat pekerja secara umum? Dari sinilah kita tegaskan bahwa
reformasi pada dasarnya telah gagal sejak wacana itu dilontarkan
elit borjuasi saat itu. Sebab, ketika perlawanan terhadap rezim
Soeharto bangkit, perjuangan rakyat pekerja yang dipelopori mahasiswa
bukanlah mengajukan proposal reformasi melainkan rezim dan sistem itu
harus tumbang.
Gerakan
penumbangan rezim yang berpuncak pada tahun 1998, faktanya terbukti
telah gagal mensejahterakan dan memenangkan rakyat pekerja. Umumnya
rakyat pekerja telah mempercayai ilusi hadirnya Tartuffe, sang
penyelamat kehancuran manusia. Siapakah Tartuffe? Ia tokoh ciptaan
Moliere (sastrawan Perancis), dalam sebuah karya dramanya yang
berjudul Tartuffe. Si Tartuffe bertampilan laki-laki yang selalu
membawa dan membaca kitab suci, yang kata-katanya seperti pisau
kebijaksanaan, yang perilakunya santun dan rendah hati, yang merogoh
belas kasihan seorang dermawan dan memberi Tartuffe fasilitas
kehidupan di rumahnya. Tak tahunya di baalik kesucian dan
kesantunnya, Tartuffe berupaya untuk menjarah tubuh isteri sang
dermawan dan mempunyai rencana sistematis untuk pula menjarah harta
kekayaannya. Kelakuan Tartuffe itu pada akhirnya dapat diblejeti dan
dihancurkan isteri sang dermawan dan pekerja rumah tangganya. Orang
yang bertampilan suci, bersih (Mr.
Clean) dan bijaksana namun penuh daya
kejahatan di dalamnya kemudian disebut "tartuffe".
Di negeri kita ini ada banyak "tartuffe"
yang beramai-ramai menggagalkan kemenangan perlawanan rakyat. Rakyat
pekerja termakan ilusi oleh tampilan "tartuffe"
yang suci dan memilihnya memimpin negara. Para "tartuffe"
berjaya memimpin negara dengan menjarah dan mengkorupsi kedaulatan
rakyat atas negara, pada aspek kekayaan, tenaga, dan ideologi. Pada
aspek kekayaan, kita merasakan perampasan tanah petani dan
penggusuran tanah rakyat atas nama pembangunan fasilitas publik. Pada
aspek tenaga, kita merasakan buruh telah diperas sampai tetes
keringat yang kering. Pada aspek ideologi, kita telah dihegemoni
dengan ilusi perdagangan dan investasi pasar bebas di Indonesia akan
membuka lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi, di mana surplusnya
dapat diterima rakyat sebagai jaminan sosial, seperti BLT, Jamkemas,
PNPN Mandiri, dan sebagainya.

Lawan
Ilusi dengan Persatuan Perjuangan Kelas Pekerja

Kawan-kawan
seperjuangan,
Syukurlah,
setelah reformasi gagal, perjuangan kaum buruh menunjukkan
perkembangan yang militan. Serikat-serikat buruh bertumbuhan melawan
ilusi kebebasan berserikat, dan sejak 2004 melawan outsourcing
dan PHK massal, privatisasi BUMN, serta
pailitisasi pabrik manufaktur yang berujung PHK massal. Gerakan
serikat buruh tumbuh subur di atas landasan perjuangan ekonomisme
tersebut. Bahkan terdapat federasi-federasi serikat buruh yang
memperbesar kekuatannya menjadi konfederasi serikat buruh di
Indonesia, yakni Konfederasi KASBI (Kongres Aliansi Serikat Buruh
Indonesia), KSPSI (Konfederasi Serikat Pekerja Seluruh Indonesia),
KSPI (Kongres Serikat Pekerja Indonesia), dan KSBSI (Konfederasi
Serikat Buruh Sejahtera Indonesia). Adanya konfederasi-konfederasi
serikat buruh ini cukup signifikan melawan dan memecah hegemoni
ideologi Orde Baru terhadap buruh yang masih dikembangsuburkan rezim
neoliberal di bawah pimpinan rezim SBY. Ideologi itu berupa sistem
keyakinan tentang kemitraan kelas pekerja (working
class) dengan korporasi kapitalis dan
penyelenggara pemerintahan. Ilusinya, hak ekonomisme perburuhan
dibahas dalam suasana kekeluargaan dengan jajaran penghisapnya dan
tentu saja hal ini merupakan ilusi tentang harmonisasi yang tak
mungkin. Bagaimana mungkin buruh yang memperjuangkan kesejahteraannya
dapat duduk bersama dengan korporasi kapitalis, sebagai keterwakilan
kapitalis yang memeras nilai lebih dari keringatnya buruh? Sedangkan
penyelanggara pemerintahan yang telah menjadi antek kapitalis tentu
lebih memilih remah-remah kapitalis ketimbang menjamin kebutuhan
ekonomisme buruh.

Namun
demikian, gerakan serikat buruh ini harus mewaspadai ancaman
pemerosotan jumlah serikat-serikat akibat penutupan pabrik (atas nama
pailit), relokasi, privatisasi, PHK massal, dan outsourcing.
Terutama di sektor manufaktur, jasa, dan agribisnis, telah kita
saksikan bubarnya serikat-serikat buruh karena faktor yang telah
disebutkan tadi. Suatu hal yang harus dipikirkan adalah bagaimana
serikat buruh tidak bubar, sekalipun terjadi PHK massal; dan
perjuangan buruh dapat berkelanjutan, sekalipun kompensasi kecil
telah diberikan kepada yang mengalami PHK massal. Inilah tantangan
gerakan buruh yang sejati!
Sampai
di sini, gerakan buruh tak bisa sebatas memperjuangkan ekonomisme
untuk tingkat survival
semata. Gerakan buruh harus ditingkatkan
untuk berkuasa, mengambil alih alat produksi, dan kemudian membangun
mekanisme kontrol di tingkat produksi, manajemen, serta distribusi.
Serikat buruh harus mempunyai strategi
pengambilalihan ketika pabrik ditutup
dan dinyatakan pailit. Di sejumlah pabrik di Tangerang, Jakarta
Utara, Karawang, Semarang, Jombang, dan Surabaya, kisah pendudukan
pabrik oleh buruh telah terjadi sejak 2004, ketika mereka berupaya
mempertahankan yang hendak dijual pemiliknya. Namun, gerakan
pendudukan pabrik ini masih sebatas menunggu pesangon dari tim
kurator yang melakukan penjualan aset. Setelah mendapat pesangon,
kebanyakan serikat buruh itu pun membubarkan diri. Inilah yang
seharusnya menjadi strategi baru konfederasi serikat buruh, untuk
mendukung dan meningkatkan secara kualitatif pendudukan pabrik
menjadi gerakan pengambilalihan alat produksi, serta kemudian serikat
buruh tersebut memimpin keberlangsungan proses produksi di bawah
kontrol manajemen buruh.


Perjuangan
buruh memang harus meningkat dari masalah ekonomisme menjadi
perjuangan politik untuk berkuasa di bawah kontrol buruh. Perlawanan
terhadap rezim neoliberal, baik di tingkat kebijakan dan ideologi,
harus dilakukan melalui pemogokan nasional, pengambilalihan alat
produksi, serta penguasaan industri nasional berada di bawah kontrol
buruh.
Perjuangan
gerakan buruh harus bergabung dengan gerakan tani. Serikat buruh
membangun kerjasama praktis yang bersifat ekonomis dan politik dengan
serikat tani. Hal-hal yang dapat dikerjasamakan hendaknya di bawah
kepemimpinan konfederasi, agar jalinan kerjasama dari bawah dapat
didorong maju dan meluas. Karena itu konfederasi
serikat tani harus segera dibentuk, setelah
mencapai gerakan pengambilalihan tanah dan/atau mempertahankan tanah
yang diserobot pemilik modal. Maka serikat tani harus memikirkan
kontrol atas produksi, distribusi, dan harga pasar. Sebab, problem
yang dihadapi petani meliputi tanah yang makin langka dari pemilikan
mandiri, hasil produksi tak sesuai dengan biaya produksi karena harga
ditentukan oleh pasar, pemaksaan monokultur, tenaga produksi atas
hitungan sukarela, modal dan teknologi yang tergantung pada jaringan
pedagang ritel yang berinduk pada agen-agen besar. Dari sini telah
nampak jelas, bahwa produksi pertanian rakyat telah berhasil dibuat
100% tergantung pada pasar. Kebangkrutan petani disebabkan oleh
pengontrolan harga pasar dan kualitas hasil pertanian ditentukan oleh
rezim neoliberal. Kebangkrutan petani pada dasarnya adalah terjadinya
"buruhisasi" di sektor pertanian. Saat ini, sekitar separuh lebih
petani di Indonesia telah menjadi buruh tani, yang jika tidak sedang
musim produksi mereka menjadi buruh konstruksi atau buruh jasa.
Hampir serupa dengan petani, adalah keadaan nelayan di Indonesia yang
perjuangannya belum tertata ke dalam serikat-serikat yang meluas
danmenyebar.

Kesatuan
Tindakan Melawan Pecah Belah


Kawan-kawan
seperjuangan,


Adalah
tugas kita untuk mendorong agar serikat-serikat kelas-kelas tersebut
di atas, terorganisir dalam konfederasi yang dipimpin oleh sebuah
partai politik dan perjuangan itu berada dalam kesatuan tindakan.
Kami pungut perkataan Lenin:

Di
tengah-tengah perjuangan pada saat itu, mutlak dibutuhkan adanya
suatu kesatuan tindakan. Dalam panasnya pertempuran, dimana setiap
urat nadi tentara proletariat sedang bergerak begitu tingginya, tidak
ada kritisisme apapun yang
kita perbolehkan. Tapi sebelum aksinya ditentukan, harus ada suatu
diskusi yang luas dan bebas terhadap suatu resolusi dari bermacam
argumentasi dan berbagai usul yang berbeda-beda.

(VI
Lenin dalam Kongres
Telah Menyimpulkan)

Kesatuan
tindakan dalam perjuangan kelas-kelas pekerja merupakan sokoguru yang
menetukan kemenangan. Tak ada perubahan revolusioner yang berjalan
liar semau-maunya, karena sikap ini membuka peluang pemecahbelahan
melalui politik uang oleh rezim neoliberal. Ancaman yang tersulit
kita dihadapi oleh semua perjuangan rakyat pekerja adalah ilusi uang
dan ikusi perubahan melalui keterwakilan partai politik borjuasi.
Telah nyata, ilusi itu mematikan pergerakan. Itulah sebabnya tak
perlu kita sangsi oleh berbagai ilusi dan praduga yang tak
bermartabat terhadap jalan yang hendak kita tempuh. Bukankah telah
terbukti? Kemenangan kita dari penjajahan kolonial ditentukan oleh
gerakan massa yang dipimpin oleh persatuan rakyat pekerja. Kemenangan
revolusi di dalam sejarah dunia juga ditentukan oleh persatuan rakyat
pekerja yang dipimpin oleh organisasi politik kelas pekerja. Namun,
dalam kesempatan memperingati 12 tahun reformasi ini, kami menyerukan
dan mengajak seluruh organisasi gerakan serta serikat-serikat rakyat
pekerja mendiskusikan secara luas dan bebas mengenai bagaimana
jalannya membangun persatuan perjuangan rakyat pekerja, baik nasional
maupun di lokal masing-masing; bagaimana metodenya, dan apa alatnya.
Dengan ini, kita tanggalkan kacamata kuda dan mengeksplorasi secara
bebas kondisi material yang ada di daerah maupun nasional. Namun
semuanya berada dalam satu tindakan meningkatkan secara kualitatif
gerakan-gerakan kelas pekerja menuju perjuangan politik untuk
berkuasa dan membangun Sosialisme.


Hanya
dengan keyakinan, ketekunan, dan kesabaran, kita akan menang. Jangan
pernah lelah perjuangkan Sosialisme.


Sosialisme,
Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja!

Sosialisme,
Solusi Bagi Krisis Kapitalisme Global!

Bersatu,
Bangun Partai Kelas Pekerja!






Jakarta,
20 Mei 2010
Komite
Pusat
Perhimpunan
Rakyat Pekerja
(KP-PRP)




Ketua
Nasional


Sekretaris
Jenderal






ttd.
(Anwar
Ma'ruf)




ttd.
(Rendro
Prayogo)



filtered {margin:0.79in;}P {margin-bottom:0.08in;}-->___*****___Sosialisme Jalan Sejati Pembebasan Rakyat Pekerja!
Sosialisme Solusi Bagi Krisis Kapitalisme Global!
Bersatu Bangun Partai Kelas Pekerja!

Komite Pusat
Perhimpunan Rakyat Pekerja
(KP PRP)
JL Cikoko Barat IV No. 13 RT 04/RW 05, Pancoran, Jakarta Selatan 12770
Phone/Fax: (021) 798-2566
Email: komite.pusat@prp-indonesia.org / prppusat@yahoo.com
Website: www.prp-indonesia.org


1 of 1 File(s) http://groups.yahoo.com/group/dunia-politik/attachments/folder/1394007903/item/list

Pidato-Politik_Peringatan-12Tahun-Tumbangnya-Suharto.pdf

Messages in this topic (1)
________________________________________________________________________
________________________________________________________________________
3. SN _ Terbaru Poligami
Posted by: "Ahmad" ahmus@yahoo.com ahmus
Date: Thu May 20, 2010 3:08 am ((PDT))

Berpoligamipun kena masuk penjara??? Apa Malaysia dah sama dengan Perancis ke, mistress tak apa, poligami kena dakwa???

Sesuatu yang pasti dan Pasti dilalui adalah
Kematian. Setiap patah perkataan yang kita tulis
Ada yang menghisabnya.

Ahmus


Messages in this topic (1)

Ahli yang menghantar menggunakan kata-kata kesat dan kasar atau menyerang peribadi ahli yang lain, email mereka tidak akan disiarkan.

Ahli group yang sentiasa menghantar email berkenaan politik sahaja akan disiarkan emailnya tanpa penapisan moderator group.

Email yang disiarkan dipertanggungjawabkan kepada pengirim email tersebut dimana moderator dan group tidak boleh dipertanggungjawabkan.

=============================================
Link List:
� Lirik Lagu Popular - http://www.lirikpopular.com
� Spa Q - http://spa-q.blogspot.com
� Auto Insurance - http://pdautoinsurance.blogspot.com

------------------------------------------------------------------------
Yahoo! Groups Links

<*> To visit your group on the web, go to:
http://groups.yahoo.com/group/dunia-politik/

<*> Your email settings:
Digest Email | Traditional

<*> To change settings online go to:
http://groups.yahoo.com/group/dunia-politik/join
(Yahoo! ID required)

<*> To change settings via email:
dunia-politik-normal@yahoogroups.com
dunia-politik-fullfeatured@yahoogroups.com

<*> To unsubscribe from this group, send an email to:
dunia-politik-unsubscribe@yahoogroups.com

<*> Your use of Yahoo! Groups is subject to:
http://docs.yahoo.com/info/terms/

------------------------------------------------------------------------

No comments:

Alexa Traffic Rank

Subscribe to dunia-politik

Subscribe to dunia-politik
Powered by groups.yahoo.com